SRAGEN — Pemprov Jateng memastikan penanganan jalan provinsi rusak parah di Sragen masuk prioritas tahun ini. Anggaran Rp 38,2 miliar telah disiapkan untuk merehabilitasi sejumlah titik yang kondisinya sudah mengkhawatirkan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (DPUBMCK) Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono, menyebut perbaikan akan difokuskan pada ruas jalan yang menghubungkan antar kecamatan. "Kami targetkan tahun ini selesai, sehingga masyarakat bisa segera menikmati akses yang lebih layak," ujarnya dalam keterangan resmi, pekan lalu.
Sejumlah ruas jalan provinsi di Sragen, seperti di Kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh, selama ini dikeluhkan warga karena berlubang dan bergelombang. Kondisi itu tak hanya memperlambat distribusi barang, tapi juga membahayakan pengendara, terutama saat malam hari.
Seorang warga Desa Karanganyar, Kecamatan Plupuh, Sutarno (45), mengaku sudah bertahun-tahun menanti perbaikan. "Setiap musim hujan, jalan seperti kubangan. Motor sering selip, apalagi kalau bawa hasil panen," katanya.
Hanung menjelaskan, dana Rp 38,2 miliar akan digunakan untuk peningkatan struktur jalan di beberapa segmen prioritas. Proyek ini mencakup pengaspalan ulang (hotmix) dan perbaikan drainase di titik-titik yang rawan genangan.
Pengerjaan akan dimulai dalam waktu dekat setelah proses administrasi dan lelang rampung. Pihak DPUBMCK Jateng memastikan akan mengawal ketat kualitas pengerjaan agar jalan tidak cepat rusak lagi.
Jalan provinsi di Sragen menjadi urat nadi perekonomian warga, terutama untuk distribusi hasil pertanian dan perdagangan antar kecamatan. Dengan perbaikan ini, biaya logistik diharapkan bisa ditekan dan waktu tempuh lebih singkat.
Selain itu, aspek keselamatan juga menjadi perhatian. Beberapa titik sebelumnya kerap terjadi kecelakaan akibat jalan rusak dan minim penerangan. Perbaikan drainase juga diharapkan mengurangi genangan air yang mempercepat kerusakan aspal.
Pemprov Jateng berjanji akan melakukan pemeliharaan rutin setelah proyek selesai, agar jalan tidak kembali rusak dalam waktu singkat. "Kami akan evaluasi secara berkala. Jangan sampai setelah diaspal, setahun kemudian bolong lagi," tegas Hanung.