SEMARANG — Di tengah hiruk-pikuk penilaian akademik dan kejaran nilai rapor, SMP Institut Indonesia Semarang memilih jalan berbeda. Sekolah ini menggelar Perayaan Belajar Kokurikuler Tahun Ajaran 2025/2026 yang menjadikan karya nyata siswa sebagai tolok ukur perkembangan potensi dan karakter mereka.
Mengusung tema “Menggali Potensi Diri Melalui Kokurikuler”, kegiatan tersebut tidak hanya memamerkan hasil akhir. Para siswa juga memperlihatkan proses mereka dalam memecahkan masalah, berkolaborasi, dan mengembangkan kreativitas lewat proyek-proyek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu proyek yang mencuri perhatian adalah “Sumpah Beruang” atau Sulap Sampah Berubah Uang. Proyek ini mengajarkan siswa cara mengelola sampah menjadi barang bernilai ekonomi. Ada pula “Pojok Busana Daur Ulang” yang menampilkan pemanfaatan limbah tekstil dan plastik menjadi produk fesyen kreatif.
Kepala SMP Institut Indonesia Semarang, Hermien Budiwismaningrum, menegaskan bahwa kokurikuler bukan sekadar pelengkap kegiatan belajar mengajar. “Kegiatan kokurikuler bukan sekadar sebagai pelengkap, melainkan wadah penting di mana murid dapat mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dengan keterampilan hidup (life skills),” ujarnya kepada beritajateng.tv.
Menurut Hermien, perayaan ini menjadi momentum untuk melihat langsung proses dan hasil pembelajaran yang telah siswa jalani selama satu tahun penuh. “Hari ini adalah momen selebrasi yang sangat berharga untuk melihat langsung hasil karya, proyek, dan kreativitas yang telah anak-anak ciptakan selama proses pembelajaran. Ini adalah bukti nyata dari kerja keras, kolaborasi, dan semangat pantang menyerah,” katanya.
Berbeda dari pameran sekolah pada umumnya, kegiatan ini tidak berorientasi pada kreativitas semata. Proyek-proyek yang ditampilkan juga menyentuh isu lingkungan, pelestarian budaya, dan pembentukan kebiasaan positif. Para siswa belajar bahwa ilmu pengetahuan bisa diterapkan langsung untuk menyelesaikan persoalan di sekitar mereka.
Dengan pendekatan ini, SMP Institut Indonesia Semarang berharap lulusannya tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan hidup yang mumpuni. Pendidikan, menurut mereka, harus mampu membekali siswa menghadapi tantangan nyata di masyarakat.