SOLO — Lokananta, studio rekaman yang namanya melegenda di industri musik Indonesia, tak lagi menjadi puing kenangan. Tempat yang sempat pailit dua dekade lalu ini kini hadir dengan wajah baru sebagai ruang kreatif yang memadukan sejarah dan seni masa kini.
Transformasi Lokananta dimulai dari kesadaran bahwa bangunan ini bukan sekadar pabrik kaset. Di masa jayanya, studio ini menjadi saksi lahirnya karya-karya legendaris musisi tanah air. Kini, area seluas 1,5 hektare di jantung Kota Solo itu disulap menjadi ekosistem kreatif.
Pengunjung bisa menemukan perpustakaan musik, galeri seni, kafe, hingga ruang pertunjukan. Semua dibangun dengan tetap mempertahankan arsitektur asli bangunan era 1960-an. "Kami ingin orang datang, melihat sejarah, tapi juga merasakan energi baru di sini," ujar salah satu pengelola.
Dulu, Lokananta dikenal sebagai satu-satunya studio rekaman milik negara yang memproduksi piringan hitam dan kaset. Suara penyiar radio, lagu daerah, hingga pidato presiden direkam di sini. Namun, krisis moneter 1998 dan gempuran teknologi digital membuat bisnis ini runtuh. Pada 2004, aktivitas produksi benar-benar berhenti.
Kini, gedung-gedung produksi yang sempat sunyi mulai dipenuhi anak muda. Ruang mastering diubah menjadi galeri pameran. Halaman parkir truk pengiriman kaset berubah jadi panggung musik terbuka. Yang tidak berubah adalah mesin-mesin rekaman analog tua yang masih terawat dan dipajang sebagai koleksi museum.
Langkah revitalisasi ini menjadikan Lokananta bukan hanya tempat nongkrong, tapi juga destinasi edukasi. Pengunjung bisa melihat langsung proses produksi piringan hitam tempo dulu. Koleksi master tape ribuan lagu dari era 1950-an hingga 1990-an juga disimpan rapi dan sebagian dipamerkan.
Pemerintah Kota Solo sendiri mendukung penuh transformasi ini. Kawasan Lokananta kini masuk dalam peta wisata budaya kota, berdekatan dengan Keraton Solo dan Pasar Gede. Tiket masuk pun dibanderol dengan harga terjangkau, sehingga bisa diakses semua kalangan.
Ke depan, pengelola menargetkan Lokananta tak hanya jadi museum mati. Acara musik, diskusi, hingga pasar kreatif rutin digelar untuk menarik pengunjung. "Kami ingin Lokananta jadi ruang publik yang hidup, bukan sekadar kenangan," tambah pengelola.
Bagi warga Solo dan sekitarnya, kebangkitan Lokananta menjadi angin segar. Ruang kreatif ini membuktikan bahwa sejarah tak harus dikubur, tapi bisa diolah ulang menjadi sesuatu yang relevan dengan zaman.