JAWA TENGAH — Pertamina Patra Niaga memastikan kesiapan pasokan avtur untuk melayani jemaah haji yang terbang dari dua bandara utama di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Total 208 penerbangan akan diisi bahan bakar, terdiri dari 106 penerbangan pada fase keberangkatan dan 102 penerbangan pada fase pemulangan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, menyatakan peningkatan volume avtur sejalan dengan kenaikan kuota jemaah haji nasional yang naik sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. "Peningkatan ini sejalan dengan bertambahnya kuota jemaah haji nasional yang naik sekitar 12% dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Taufiq, Sabtu.
Untuk memastikan kelancaran operasional, Pertamina mengerahkan 123 pekerja yang bertugas mengelola stok, mengawasi kualitas produk, hingga proses pengisian bahan bakar pesawat. Seluruh proses dilakukan sesuai standar keselamatan dan keamanan penerbangan internasional yang telah dimiliki perusahaan.
Taufiq menambahkan bahwa dukungan terhadap penerbangan haji merupakan bagian dari komitmen perusahaan dan menjadi nilai ibadah tersendiri bagi setiap insan yang terlibat. "Dukungan tersebut mencakup pengisian bahan bakar untuk total 208 penerbangan haji... yang melibatkan sebanyak 123 pekerja yang terlibat pada pengelolaan stok, pengawasan kualitas produk, hingga proses pengisian bahan bakar pesawat sesuai standar keselamatan dan keamanan penerbangan internasional yang telah kami miliki," jelasnya.
Dalam kebijakan terpisah, PT Pertamina Patra Niaga resmi menurunkan harga avtur domestik sebesar 10 persen mulai 1 Juni 2026. Langkah ini diambil untuk mendukung efisiensi maskapai dan meningkatkan konektivitas udara di Indonesia. Sebelumnya, perusahaan juga menurunkan harga Avtur di Bandara Soekarno-Hatta sebesar 14 persen serta mengoreksi harga Pertamax Turbo dan Dex Series mulai 1 Juli 2026.
Kebijakan penurunan harga ini menjadi angin segar bagi industri penerbangan di tengah lonjakan harga bahan bakar jet global. Sejumlah maskapai Eropa, seperti Lufthansa, bahkan terpaksa memangkas 20 ribu penerbangan hingga Oktober 2026 akibat biaya operasional yang membengkak. Dengan penurunan harga avtur domestik, maskapai di Indonesia diharapkan bisa menjaga stabilitas tarif dan frekuensi penerbangan.