SOLO — Pemkot Solo memilih untuk tidak melibatkan diri dalam pusaran konflik internal Keraton Kasunanan Surakarta. Penegasan itu disampaikan pihak pemerintah daerah menjelang gelaran Kirab Malam 1 Suro yang tinggal menghitung hari. Alih-alih mengambil posisi, seluruh aparatur sipil negara dan jajaran keamanan dikerahkan untuk mengamankan jalannya prosesi.
Netralitas Demi Kelancaran Ritual Budaya
Keputusan untuk bersikap netral dinilai sebagai langkah paling bijak agar tradisi Kirab Malam 1 Suro tidak tersandera oleh dinamika politik internal keraton. Pemkot tidak ingin prosesi yang telah berlangsung turun-temurun ini kehilangan esensinya karena perbedaan pandangan di internal keraton. Fokusnya kini tunggal: memastikan ribuan peserta dan warga yang menyaksikan bisa menjalankan ritual dengan khusyuk.
“Kami tidak ingin terjebak dalam urusan internal keraton. Tugas kami adalah memastikan acara berjalan aman dan tertib,” demikian pernyataan yang mewakili sikap resmi Pemkot Solo. Pemerintah menekankan bahwa Kirab Malam 1 Suro adalah milik masyarakat Solo, bukan milik kelompok atau golongan tertentu di dalam keraton.
Pengamanan Ketat di Titik-Titik Kritis
Pemkot telah berkoordinasi dengan aparat keamanan, termasuk TNI dan Polri, untuk menyiapkan skema pengamanan. Titik-titik yang dianggap rawan kemacetan dan potensi gesekan akan dijaga ketat. Petugas gabungan akan disiagakan sejak sore hari hingga prosesi usai pada dini hari nanti.
Rute kirab yang melewati beberapa jalan protokol di pusat kota juga akan ditutup sementara. Rekayasa lalu lintas sudah disosialisasikan kepada warga melalui kelurahan dan media sosial. Pemkot berharap masyarakat dapat memaklumi dan mendukung upaya pengamanan ini demi kelancaran tradisi yang sudah berusia berabad-abad.
Polemik Internal Tak Ganggu Kekhusyukan Warga
Meski polemik internal keraton masih menjadi isu hangat, warga Solo cenderung tetap antusias menyambut Kirab Malam 1 Suro. Bagi mereka, tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus dijaga, terlepas dari siapa yang memimpin keraton saat ini. Pemkot menilai semangat inilah yang harus dilindungi dan difasilitasi.
Pemkot berharap dengan sikap netral yang diambil, semua pihak yang terlibat dalam prosesi bisa fokus pada esensi spiritual kirab, bukan pada perbedaan politik. Keamanan dan ketertiban menjadi prioritas utama agar tidak ada satu pun warga yang dirugikan. Tradisi harus terus hidup, dan negara hadir untuk menjaminnya.