Produksi Susu Kambing Peternak Sragen Baru 0,8 Liter per Hari, Tim UNS Turun Tangan Benahi Pakan hingga Reproduksi

Penulis: Puguh Triyono  •  Senin, 27 Juli 2026 | 14:46:01 WIB
Tim UNS mendampingi peternak kambing perah di Sragen untuk meningkatkan produksi susu yang baru mencapai 0,8 liter per ekor per hari.

Ketua tim pengabdian, Dr. Ir. Ahmad Pramono, S.Pt., M.P., mengidentifikasi sederet persoalan klasik yang menghambat produktivitas. Manajemen pakan laktasi belum memenuhi kebutuhan nutrisi seimbang, ditambah keterbatasan hijauan berkualitas saat musim kemarau. Akibatnya, produksi susu harian kelompok yang beranggotakan 20 peternak itu mandek di angka 0,8 liter.

Jarak Beranak Panjang dan Ancaman Kawin Sedarah

Selain pakan, jarak beranak atau kidding interval kambing di kelompok ini tercatat 10 hingga 13 bulan. Kondisi itu memperlambat regenerasi ternak. Risiko perkawinan sedarah (inbreeding) juga tinggi karena sistem pencatatan pembibitan belum berjalan optimal.

Tim UNS memperkenalkan teknologi sinkronisasi birahi menggunakan hormon Prostaglandin F2? (PGF2?) dan GnRH (Conceptase) untuk memperpendek jarak beranak. Proses ini didukung alat pendeteksi birahi (heat detector) dan pemeriksaan kebuntingan dini menggunakan ultrasonografi (USG). Peternak juga dilatih menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) bibit kambing perah Sapera dan Saanen agar mampu seleksi bibit unggul secara mandiri.

Silase dan Alat Deteksi Mastitis Subklinis

Di bidang pakan, UNS mengenalkan teknologi pembuatan silase menggunakan Fermented Juice of Lactic Acid Bacteria (FJLB). Hijauan dicacah dengan mesin chopper sebelum difermentasi, menghasilkan pakan berkualitas yang bisa disimpan jangka panjang. Teknologi ini diharapkan menjamin ketersediaan pakan bergizi sepanjang tahun, termasuk saat kemarau.

Dari sisi kesehatan ternak, tim membawa Drami?ski Mastitis Test, alat yang mendeteksi mastitis subklinis—radang ambing tanpa gejala kasat mata—sejak dini melalui pengukuran konduktivitas listrik pada susu. Deteksi awal memungkinkan penanganan sebelum penyakit menurunkan kualitas dan kuantitas produksi.

Limbah Jadi Pupuk, Susu Segar Diolah Jadi Yogurt dan Es Krim

Konsep ekonomi sirkular mulai diterapkan. Kotoran padat dan urin kambing yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini diolah menjadi pupuk organik padat dan cair melalui proses pengomposan dengan dekomposer. Hasilnya memberi nilai tambah sekaligus menjaga kebersihan lingkungan kandang.

Di sektor hilir, peternak dibekali keterampilan mengolah susu segar menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi: susu pasteurisasi, yoghurt, kefir, es krim, hingga karamel susu. Strategi pemasaran mulai diarahkan ke platform digital melalui website dan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar.

Tim UNS menargetkan penerapan paket Good Dairy Goat Farming Practice ini mampu meningkatkan produksi susu sedikitnya 30 persen dan menekan angka kejadian penyakit reproduksi. Program pendampingan melibatkan Prof. Dr.agr. Ir. Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech., IPM, drh. Wari Pawestri, M.Sc., Farouq Heidar Barido, S.Pt., Ph.D., serta mahasiswa Fakultas Peternakan UNS.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: joglosemarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top