SRAGEN — Posko kesehatan gratis ini direalisasikan setelah warga menempuh jalur audiensi ke DPRD setempat. Sebelumnya, surat aduan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Camat, Lurah, hingga Bupati Sragen yang dilayangkan sejak awal Juli tak kunjung mendapat respons hingga dua pekan.
Sri Kodariah, warga RW 12 Cantel Wetan yang rumahnya berjarak sekitar 1 kilometer dari PG Mojo, menuturkan gangguan debu sempat mereda selama dua hari pasca-pertemuan dengan wakil rakyat. Kondisi itu tak bertahan lama.
"Habis dari DPRD itu sempat berkurang dua hari. Tapi sekarang full lagi. Tadi pagi nyapu abu langesnya luar biasa banyak," ujarnya kepada awak media.
Dampak kesehatan yang dirasakan warga bukan sekadar batuk ringan. Sri mengungkapkan, satu keluarganya terkena semua, dari lansia hingga cucu. Batuk hilang-timbul karena tanpa sadar mereka terus menghirup udara tercemar.
"Pas jalan keluar langsung bersin-bersin (wahing-wahing). Bahkan kalau membersihkan hidung, kotorannya sampai berwarna hitam," tuturnya.
Kehadiran posko kesehatan gratis memang disambut baik warga. Namun mereka menilai langkah ini belum menyentuh akar persoalan selama proses giling tebu masih berjalan dan debu langes terus beterbangan.
Warga mendesak layanan pengobatan gratis ini disediakan secara berkala dan berkelanjutan, bukan sekadar respons sesaat atas desakan yang disuarakan. Mereka berharap ada solusi permanen dari pihak pabrik dan pemerintah daerah agar polusi udara yang mencekik permukiman tak terulang setiap musim giling tiba.