JAWA TENGAH — Program privatisasi yang agresif ini menjadi strategi utama New Delhi untuk menambal kas negara di saat pertumbuhan ekonomi tercepat di antara negara-negara G20 itu mulai terhambat oleh inflasi dan beban subsidi yang meningkat. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana target divestasi kerap meleset, tahun ini pemerintah India berhasil memanfaatkan momen untuk melepas kepemilikan di puluhan badan usaha milik negara (BUMN) meskipun kondisi pasar modal global sedang lesu.
Transaksi teranyar yang menopang penerimaan adalah pelepasan 6,5% saham Life Insurance Corporation of India (LIC), perusahaan asuransi jiwa terbesar di India. Dari aksi korporasi ini, pemerintah meraup dana segar sekitar US$ 3,3 miliar atau Rp 59,06 triliun.
Untuk menarik minat investor di tengah pasar yang tidak menentu, saham LIC ditawarkan dengan diskon 10% dari harga pasar. Hasilnya, permintaan dari pembeli tercatat melebihi target penawaran awal.
Sebelum LIC, pemerintah India tercatat telah melepas sahamnya di sembilan perusahaan lain sejak awal tahun. Beberapa nama yang masuk daftar divestasi antara lain:
Langkah ini dinilai sebagai pergeseran kebijakan signifikan. Kepala Riset Ekonomi India di Standard Chartered Bank, Anubhuti Sahay, mengatakan bahwa selama bertahun-tahun pemerintah India kerap gagal memenuhi target divestasi karena posisi fiskal yang relatif nyaman. Kini situasinya berubah.
"Saat ini penjualan saham tersebut seperti memanfaatkan 'aset berharga keluarga' pada saat dibutuhkan," ujar Sahay kepada CNBC, Sabtu (8/8/2026).
Tekanan fiskal muncul dari dua arah. Di sisi penerimaan, pendapatan negara berisiko turun seiring perlambatan ekonomi global. Di sisi belanja, beban subsidi energi dan pangan meningkat tajam untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah inflasi.
Kondisi ini memaksa pemerintah memperlambat pengeluaran infrastruktur, padahal belanja modal menjadi motor utama pertumbuhan. Dengan memanfaatkan hasil divestasi, pemerintah berharap momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga tanpa harus memperlebar defisit anggaran.
Menurut data Prime Database, penyedia intelijen pasar India, total pengumpulan dana dari penjualan saham BUMN tahun ini merupakan yang tertinggi dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir. Pemerintah India kini berada di jalur yang tepat untuk mencapai target penggalangan dana tahunan sebesar 800 miliar rupee atau sekitar US$ 8,4 miliar (Rp 150,33 triliun).
Strategi ini menjadi pelajaran menarik bagi negara berkembang lain, termasuk Indonesia, yang juga mengandalkan dividen dan divestasi BUMN sebagai sumber penerimaan negara di tengah volatilitas ekonomi global.