BATANG — Pemerintah Kabupaten Batang menilai kesenjangan antara kompetensi lulusan SMK dan kebutuhan pabrik masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Lewat forum Ngopeni SMK yang mempertemukan pemangku kebijakan pendidikan dengan pelaku industri di KITB, Bupati Faiz Kurniawan menekankan pentingnya regenerasi peralatan praktik di sekolah.
Menurut Faiz, kurikulum yang diperbarui tanpa diimbangi pembaruan alat praktik hanya akan menghasilkan lulusan yang gagap teknologi. Ia menyebut pembaruan ini sebagai pemicu utama terciptanya hubungan timbal balik antara sektor pendidikan dan industri.
“Ini akan men-trigger link and match antara kebutuhan industri dengan kurikulum SMK. Sehingga kita berharap ke depan lulusan SMK ini benar-benar langsung bisa ter-absorb,” ujarnya dalam forum yang digelar Kamis (20/8/2026).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Sadimin, mengingatkan bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup. Ia menegaskan pembentukan karakter unggul dan mental kerja harus berjalan beriringan dengan penguatan keterampilan siswa.
“Ngopeni SMK ini dengan tujuan bagaimana anak-anak SMK itu memiliki karakter yang unggul. Selain kompetensi yang unggul, juga karakter yang unggul,” katanya.
Sadimin menyoroti realitas dunia industri yang menuntut ketahanan fisik. Ia mengibaratkan pekerja pabrik harus mampu bertahan berdiri selama delapan jam kerja, sehingga siswa perlu dipersiapkan sejak dini agar tidak mudah menyerah.
“Tidak istilahnya itu leda-lede, tidak mletre. Maka kalau bekerja ya harus tahan lama. Berdiri itu delapan jam ya biasanya, harus kuat itu. Kalau tidak kuat kan repot, maka secara fisiknya harus kita kuatkan,” tegasnya.
Wakil Ketua III DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menilai forum semacam ini krusial untuk menjaga komunikasi antara sekolah dan industri. Ia mewanti-wanti bahwa laju teknologi akan menghilangkan sejumlah profesi lama, tetapi juga memunculkan jenis pekerjaan baru.
“Banyak ke depan pekerjaan-pekerjaan yang mungkin akan hilang, pekerjaan-pekerjaan baru pun juga pasti akan muncul. Nah, saya kira ini perlu. Dengan forum semacam ini akan ada komunikasi antara dunia pendidikan dengan dunia industri,” jelasnya.
Melalui penguatan link and match tersebut, pemerintah berharap lulusan SMK di Kabupaten Batang memiliki kompetensi dan karakter yang sesuai kebutuhan industri. Dengan begitu, peluang mereka terserap ke dunia kerja semakin besar. (hms/fan/rds)