KEBUMEN — Puluhan ibu-ibu PKK Desa Semali, Kecamatan Semali, Kabupaten Kebumen, mendapat pembekalan khusus tentang pengasuhan anak di tengah gempuran teknologi digital. Materi disampaikan dalam sesi berbagi yang digagas mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN kelompok 97, Selasa (4/8/2026).
Kegiatan ini diikuti mahasiswa dari empat kampus, yakni UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU), UIN Sunan Gunung Djati (UIN SGD), UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur), dan UIN Walisongo. Fara Ulyatul Fatma, mahasiswa UIN Walisongo Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, bertindak sebagai pemandu acara.
Fara memaparkan, anak yang tumbuh dengan kasih sayang cenderung lebih mudah mengendalikan emosi. Mereka tidak mudah marah atau ngambek berlebihan, serta lebih peka terhadap orang lain.
Orang tua juga diminta menjadi teladan, bukan sekadar memerintah. Anak lebih banyak meniru apa yang dilihat daripada yang didengar, sehingga sikap jujur dan rajin beribadah sebaiknya dicontohkan langsung.
Dalam pemaparannya, Fara menekankan pentingnya bersikap adil kepada semua anak tanpa membeda-bedakan jenis kelamin atau urutan kelahiran. Perasaan "dianaktirikan" disebut dapat membekas hingga anak dewasa.
Disiplin tetap diperlukan, namun harus disampaikan dengan bijak. Teguran yang tenang disertai penjelasan dilandasi kasih sayang dinilai lebih efektif dibanding membentak, memukul, atau mempermalukan anak di depan umum.
Sekretaris Desa Semali turut menanggapi paparan tersebut. Ia mengimbau ibu-ibu PKK untuk berhati-hati dalam berbicara kepada anak.
"Saya berharap ibu-ibu bisa menjaga ucapan kepada anak, karena apa yang kita ucapkan itu dapat terjadi pada anak kita," ujarnya.
Kegiatan yang diawali doa pembuka ini kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dan ditutup sesi berbagi cerita bersama ibu-ibu PKK. Tema pengasuhan diangkat karena anak-anak kini tidak cukup hanya dipenuhi kebutuhan fisik dan pendidikan formal, tetapi juga membutuhkan dukungan emosional, sosial, dan spiritual yang seimbang.