KENDAL — Tiga perwakilan LP2M UIN Walisongo melakukan pengecekan langsung ke lokasi KKN untuk memastikan kesiapan teknis program. Peralatan yang ditinjau meliputi drum tong oli, mesin pencacah, alat pencetak briket, hingga struktur badan insinerator utama.
Program ini dirancang untuk menjawab dua persoalan lingkungan di Desa Jatirejo sekaligus: penumpukan sampah rumah tangga dan melimpahnya limbah pertanian berupa bonggol jagung yang selama ini belum diolah secara maksimal.
Dua Masalah Lingkungan, Satu Solusi Terpadu
Kepala Dusun Duren, Romli Mubarok, mengatakan persoalan sampah di wilayahnya diperparah minimnya fasilitas pengolahan dan belum tersedianya Bank Sampah. Kondisi tersebut membuat sebagian warga membuang sampah di kebun, sungai, dan selokan.
Situasi semakin kompleks karena surat perizinan armada pengangkutan sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kendal belum kunjung diterima, meski telah diajukan hampir satu tahun.
“Sebenarnya gagasan awal mengolah bonggol jagung menjadi briket biomassa ini berawal dari keinginan kami di tingkat dusun. Namun, rencana tersebut selama ini terkendala akibat ketiadaan alat pencacah. Kehadiran mahasiswa KKN sangat membantu meretas jalan keluar,” kata Romli.
Integrasi Insinerator dan Pencetak Briket
Koordinator Divisi Kesehatan Lingkungan KKN Posko 202 UIN Walisongo, Farid Rafiftito, mengatakan pihaknya berkomitmen menghadirkan solusi yang menangani dua persoalan lingkungan secara bersamaan.
“Melalui integrasi mesin insinerator dan pengolahan briket biomassa, kami berikhtiar menyelesaikan dua persoalan utama warga Jatirejo secara bersamaan, yakni menuntaskan timbunan sampah rumah tangga dan mengolah limbah bonggol jagung menjadi komoditas energi alternatif yang bernilai ekonomi,” tegas Farid.
Apresiasi LP2M: Inovasi Strategis untuk Desa
Perwakilan LP2M UIN Walisongo, Muhammad Najieb Sholih, M.Ars., mengapresiasi inovasi yang dikembangkan mahasiswa KKN Posko 202. Menurutnya, program tersebut memiliki potensi strategis karena memanfaatkan limbah pertanian yang melimpah sekaligus merespons persoalan sampah rumah tangga.
“Ini merupakan inovasi yang sangat strategis karena di Desa Jatirejo terdapat limbah pertanian berupa bonggol jagung yang melimpah, sementara persoalan sampah rumah tangga juga masih menjadi perhatian,” ujar Muhammad Najieb.
Setelah mengecek kesiapan peralatan, tim LP2M UIN Walisongo juga meninjau lokasi pembuangan sampah serta titik penumpukan bonggol jagung milik warga. Peninjauan lapangan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi dan kebutuhan masyarakat sebagai dasar pelaksanaan program unggulan KKN Posko 202.
Program pengolahan sampah dan bonggol jagung tersebut diharapkan tidak hanya menjadi solusi terhadap persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk energi alternatif yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat Desa Jatirejo.