JAWA TENGAH — Pemblokiran akun WhatsApp yang menimpa aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, berbuntut panjang hingga ke meja regulator. Komdigi memanggil perwakilan Meta untuk meminta klarifikasi setelah surat yang dikirim pada 14 Agustus tidak kunjung direspons.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, mengungkapkan pihaknya menerima banyak keluhan dari pengguna yang akunnya tiba-tiba terkena suspend. Namun, saat ditanya mengenai posisi akun Botok, Alexander mengaku regulator tidak memiliki data spesifik terkait kasus tersebut.
"Nah itu dalam posisi kami di regulator tidak mengetahui hal itu," kata Alex kepada wartawan di Kantor Komdigi, Jakarta, Rabu (26/8).
Dalam pertemuan dengan Komdigi, Kepala Kebijakan Facebook & Messaging Meta Asia Pasifik, Esther, buka suara soal penyebab pemblokiran massal tersebut. Ia menegaskan insiden ini dipicu oleh kegagalan sistem dalam mendeteksi pelanggaran.
WhatsApp menggunakan sistem yang mempelajari sinyal perilaku pengguna untuk mendeteksi aktivitas spam atau penyalahgunaan platform. Sistem ini berjalan tanpa membaca isi pesan karena WhatsApp menerapkan enkripsi end-to-end.
Namun, eksekusi sistem tersebut keliru dan menjaring akun pengguna asli. "Ini memang kesalahan sistem yang langsung dimitigasi," ujar Esther.
Meta juga membantah adanya upaya terkoordinasi yang menyasar pengguna di Indonesia. "Hal ini terjadi secara global. Jadi bukan, tidak ada upaya secara terkoordinasi untuk Indonesia," tuturnya.
Esther menyebut mayoritas akun yang terdampak pemblokiran telah berhasil dipulihkan. Bagi pengguna yang masih mengalami kendala, proses banding bisa dilakukan langsung dari dalam aplikasi WhatsApp.
Opsi banding tersedia di menu pengaturan aplikasi, dan Meta berjanji akan menindaklanjuti setiap laporan yang masuk. Pengguna yang akunnya masih terblokir disarankan untuk segera mengajukan banding agar proses pemulihan bisa dipercepat.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada satu platform komunikasi memiliki risiko. Bagi pelaku bisnis yang menggunakan WhatsApp sebagai saluran utama layanan pelanggan, kejadian ini menegaskan pentingnya memiliki kanal komunikasi cadangan.