JAWA TENGAH — Sebagai orang tua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang si kecil. Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan sehari-hari yang kita anggap wajar justru bisa menjadi penghambat bagi perkembangan mental dan sosial anak di masa depan.
Dr. Roseann Capanna-Hodge, seorang psikolog anak, mengidentifikasi sejumlah pola pengasuhan yang perlu segera dihindari. Berikut penjelasan lengkapnya.
Saat kelelahan atau harus menyelesaikan pekerjaan, memberikan ponsel pada anak memang terasa seperti penyelamat. Namun, ketergantungan pada layar elektronik membawa risiko serius.
Penelitian dari Johns Hopkins Medicine menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berlebih dapat berdampak buruk pada kesehatan mental anak. Mereka bisa kecanduan dan menggunakan ponsel sebagai pelarian dari rasa bosan atau emosi yang tidak nyaman.
Data Common Sense Media 2023 bahkan mencatat anak usia 0-8 tahun menghabiskan lebih dari 2,5 jam per hari di depan layar. Angka ini memengaruhi suasana hati, pola tidur, dan perkembangan sosial mereka.
Anak belajar paling efektif melalui pengamatan. Mereka lebih mudah meniru apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan.
Ketika orang dewasa di rumah berdebat dengan kasar, menutup diri, atau memperlakukan orang lain tanpa hormat, anak akan menganggap itu sebagai hal yang normal dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Studi perkembangan anak tahun 2023 menegaskan bahwa kemampuan mengelola emosi anak sangat mencerminkan kondisi emosional yang mereka lihat di rumah.
Tekanan keuangan, kurang tidur, dan tuntutan pekerjaan rumah tangga memang bisa mengikis kesabaran. Namun, terlalu sering berteriak atau mengkritik anak dapat meninggalkan luka yang dalam.
Menurut Capanna-Hodge, kebiasaan meninggikan suara membuat anak merasa takut dan kesulitan mengelola stres. Rasa aman dan kepercayaan diri mereka perlahan terkikis oleh pola pengasuhan yang penuh tekanan ini.
Pola asuh yang memicu rasa bersalah pada anak bisa melekat di benak mereka seumur hidup. Beberapa studi mengaitkan kebiasaan ini dengan munculnya kecemasan, keinginan berlebihan untuk menyenangkan orang lain, dan kesulitan menentukan keinginan diri sendiri.
Anak yang terbiasa merasa bersalah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang sulit berkata tidak dan selalu mengutamakan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaannya sendiri.
Banyak orang tua khawatir anak tidak mau mendengarkan. Padahal, akar masalahnya sering kali bukan pada anak yang memberontak, melainkan pada aturan yang diterapkan tidak konsisten.
"Aturan yang tidak konsisten menciptakan kebingungan dan rasa tidak aman," ujar Capanna-Hodge. Anak justru lebih mudah belajar dan memahami batasan jika aturan yang diberikan jelas dan diterapkan secara konsisten setiap hari.
Kebiasaan membandingkan sering muncul dari kecemasan orang tua bahwa perkembangan anaknya tertinggal. Namun, dampaknya justru merusak kepercayaan diri anak.
Terlalu sering dibandingkan membuat anak merasa tertekan untuk selalu memberikan yang terbaik demi menyenangkan orang tua, bukan karena keinginan untuk berkembang dari dalam dirinya sendiri.
Jika Bunda merasa pola pengasuhan saat ini sudah terlanjur membentuk kebiasaan yang mengkhawatirkan pada anak—seperti kesulitan mengelola emosi, kecanduan layar yang parah, atau penurunan percaya diri—tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog anak. Penanganan dini selalu lebih efektif dibandingkan menunggu masalah semakin kompleks.
Mengubah kebiasaan memang butuh waktu dan kesabaran ekstra. Mulailah dari langkah kecil: kurangi waktu layar secara bertahap, berikan contoh perilaku yang baik, dan terapkan aturan dengan konsisten. Dengan begitu, Bunda membantu anak membangun fondasi emosi yang kuat untuk masa depannya.