Morgan Stanley Borong 549 Juta Saham GOTO di Harga Rp 25, Kepemilikan Melejit

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Selasa, 08 September 2026 | 12:17:31 WIB
Morgan Stanley membeli 549 juta saham GOTO pada harga Rp25 per saham, meningkatkan total kepemilikan menjadi 87,48 miliar lembar.

JAWA TENGAH — Transaksi tersebut terungkap dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipublikasikan pekan ini. Pembelian dilakukan secara bertahap dengan status kepemilikan langsung, terdiri dari 12.577.872.400 lembar, 119.953.200 lembar, dan 9.221.177.326 lembar saham biasa.

Manajemen GoTo belum memberikan keterangan resmi terkait aksi korporasi ini. Namun, langkah Morgan Stanley menambah posisi di tengah harga saham yang stagnan menjadi sinyal menarik bagi pelaku pasar.

Kepemilikan Morgan Stanley Melonjak Signifikan

Setelah transaksi rampung, total kepemilikan Morgan Stanley di GOTO bertambah menjadi 87.487.916.784 lembar saham, naik dari sebelumnya 65.808.820.258 lembar. Dengan tambahan tersebut, hak suara perusahaan investasi global itu tercatat sebesar 7,5986%.

Akumulasi saham dilakukan saat harga GOTO berada di level terendahnya, Rp 25 per saham. Harga ini jauh di bawah level psikologis Rp 50 yang kerap disebut pelaku pasar sebagai "gocap".

Harga Saham Stagnan dan Tekanan Jual Asing

Hingga Selasa (8/9/2026), harga saham GOTO stagnan di level Rp 50 per saham sejak pembukaan perdagangan. Pergerakan flat ini berlangsung selama tiga bulan terakhir, mencerminkan minimnya katalis baru bagi emiten bersandi GOTO tersebut.

Tekanan jual investor asing masih membayangi. Sepanjang tahun 2026, GOTO mencatat net foreign sell sebesar Rp 2,69 triliun—angka yang menunjukkan investor global cenderung mengurangi eksposur mereka di saham ini.

Apa Arti Aksi Borong Ini bagi Investor?

Langkah Morgan Stanley justru berlawanan dengan tren asing yang cenderung melepas saham GOTO. Pembelian di harga Rp 25—separuh dari harga pasar saat ini—memberikan ruang aman bagi Morgan Stanley jika dibandingkan investor yang masuk di level Rp 50.

Pola akumulasi bertahap seperti ini kerap dibaca sebagai strategi membangun posisi jangka panjang. Namun, investor ritel perlu mencermati bahwa stagnasi harga dan net foreign sell yang besar masih menjadi sentimen negatif yang belum sepenuhnya hilang.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top