JAWA TENGAH — Data Bloomberg pukul 09.05 WIB menunjukkan rupiah di pasar spot dibuka di Rp17.585 per dolar AS. Pada Kamis (10/9/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 36 poin atau 0,21% di posisi Rp17.547. Sementara indeks dolar AS relatif stabil di level 99,072.
Pergerakan rupiah pada awal sesi Asia dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Kondisi itu mendorong investor memburu aset safe haven, termasuk dolar AS.
Mengutip Reuters, indeks dolar AS sebelumnya berada di 99,081 setelah menguat 0,3% pada Kamis. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 7 September 2026.
Data ekonomi Amerika Serikat turut memperkuat dolar. Harga produsen AS naik 0,4% pada Agustus, membuat pasar menghitung ulang arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Tekanan terhadap rupiah semakin besar ketika harga minyak dunia kembali naik. Minyak mentah berjangka Brent menguat 1,2% menjadi US$108,96 per barel dalam perdagangan Asia.
Lonjakan harga energi menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Bagi pasar keuangan, kondisi ini memengaruhi ekspektasi investor terhadap keputusan suku bunga The Fed pekan depan.
"Dolar AS mendapatkan dorongan dari aksi penghindaran risiko. Kenaikan harga energi juga memperbesar perhatian pasar terhadap potensi kebijakan suku bunga The Fed," ujar Analis Pasar IG Australia Tony Sycamore.
Menurut Sycamore, peluang kenaikan suku bunga The Fed pekan depan berada di sekitar 70%. Perubahan ekspektasi tersebut membuat dolar AS lebih menarik sekaligus menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di pasar valuta asing global, pergerakan sejumlah mata uang utama relatif terbatas. Yen Jepang melemah untuk hari kedua pada awal perdagangan Asia, sejalan dengan kenaikan imbal hasil obligasi dan harga energi.
Dolar Australia bergerak datar di level US$0,7160. Dolar Selandia Baru menguat tipis 0,1% menjadi US$0,5805 terhadap dolar AS.
Euro cenderung stabil di posisi US$1,1613, sedangkan poundsterling Inggris bertahan di level US$1,3510 per dolar AS.
Arah perdagangan rupiah masih akan sangat dipengaruhi perkembangan harga minyak, sentimen risiko global, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
Bagi pelaku pasar domestik, kombinasi dolar kuat dan minyak mahal menjadi kombinasi yang menekan mata uang negara berkembang. Investor obligasi dan saham perlu mencermati pergerakan indeks dolar serta rilis data The Fed pekan depan.
Investasi mengandung risiko.