JAWA TENGAH — Menurutnya, seorang metallurgist baru bisa disebut menguasai teknologi jika mampu memahami prinsip proses, merancang, membangun, hingga menjamin kinerjanya.
"Penguasaan teknologi tidak diukur dari berapa banyak mesin yang kita operasikan, tetapi dari kemampuan menjelaskan, merancang, mendesain, membangun, dan menjamin kinerjanya," tegas Zulfiadi.
Zulfiadi memaparkan peta jalan peningkatan kapasitas ahli metalurgi Indonesia, mulai dari level paling dasar hingga mampu menjual teknologi ke pasar global. Tahapan ini menjadi rujukan bagi metallurgist yang ingin naik kelas.
Untuk menembus level tertinggi, Zulfiadi menyebut tiga kemampuan yang wajib dikuasai: science, engineering, dan leadership. Aspek science menjadi fondasi pemahaman prinsip dasar metalurgi, mulai dari termodinamika, kinetika, hingga fenomena transport.
Sementara engineering menjembatani teori menjadi kemampuan merancang proses, desain pabrik, dan teknologi pemrosesan secara mandiri. Adapun leadership memastikan inovasi bisa dieksekusi — memimpin tim, mengambil risiko terukur, dan mengelola proyek inovasi bernilai strategis.
Bagi Zulfiadi, transformasi kompetensi ini bukan sekadar urusan akademik. Kemampuan para ahli metalurgi akan menentukan seberapa besar Indonesia bisa menangkap nilai tambah dari kekayaan mineral yang dimilikinya.
Jika tenaga ahli nasional hanya berperan sebagai pengguna teknologi pihak lain, nilai tambah terbesar dari industri hilir tetap mengalir ke luar. Sebaliknya, dengan penguasaan science, engineering, dan leadership, metallurgist Indonesia berpeluang menjadi penggerak inovasi sekaligus pencipta teknologi yang menopang industri nasional.
Harapan itu sejalan dengan agenda hilirisasi mineral yang tengah digenjot pemerintah. Kongres PROMETINDO 2026 sendiri menjadi ajang para profesional metalurgi Indonesia memetakan arah penguatan kompetensi di sektor tersebut.