TEGAL — Krisis air bersih di Dukuh Wanarata, Desa Wotgalih, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sudah berlangsung hampir empat bulan. Sumur milik warga debitnya turun drastis, bahkan banyak yang kini benar-benar kering. Kondisi itu memaksa warga RW 06 dan RW 07 berbondong-bondong menyerbu setiap mobil tangki bantuan yang datang, membawa ember, galon, dan jeriken.
Pada Kamis (17/9/2026), antrean panjang ibu-ibu dengan jeriken dan ember terlihat di bawah terik matahari. Mereka rela menunggu demi mendapatkan jatah air bersih dari tangki bantuan yang tiba di perkampungan perbukitan itu.
Krisis ini tidak hanya menyulitkan akses air, tetapi juga menguras dompet warga. Air untuk kebutuhan minum terpaksa dibeli dengan harga Rp 5.000 per jeriken. Pengeluaran itu muncul di tengah situasi ketika sumber air gratis di kampung sendiri sudah tidak bisa diandalkan.
Untuk mandi dan mencuci, sebagian warga memilih berjalan jauh. Mereka mendatangi sungai kecil, cerukan, kawasan hutan, hingga daerah baron demi mencari sisa air. Warga kini harus ekstra hemat dan memprioritaskan air yang ada hanya untuk minum serta memasak.
"Sudah hampir empat bulan kami kesulitan air bersih. Sumur-sumur warga debitnya turun drastis, banyak yang kini benar-benar kering," keluh Koriah, salah satu warga setempat.
Bantuan air bersih datang dari Badan Penanggulangan Bencana (BAPENA) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) DPD Kabupaten Tegal. Lembaga itu turun langsung membawa pasokan air ke wilayah perbukitan Jatinegara.
Ketua BAPENA PPNI DPD Kabupaten Tegal, Tansari Wibowo, menyebut antrean panjang warga sebagai bukti nyata betapa mendesaknya kebutuhan air di wilayah tersebut.
"Serbuan warga yang mengantre ini memperlihatkan betapa mendesaknya kebutuhan air bersih di sini. Mereka benar-benar sudah sangat kesulitan," ujar Tansari.
Aksi kemanusiaan itu merupakan bagian dari rangkaian distribusi air bersih yang digulirkan sejak awal September 2026. Sebelumnya, bantuan menyasar wilayah pesisir seperti Warureja dan Suradadi pada pekan pertama. Kini giliran kawasan perbukitan Jatinegara yang disapa.
BAPENA PPNI bahu-membahu bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan PDAM Kabupaten Tegal dalam distribusi tersebut. Pasokan air bersih dipastikan terus berlanjut hingga pekan ketiga September 2026 untuk meringankan beban warga di tengah musim kemarau yang belum usai.
Bagi warga Wotgalih, setiap tetes air yang tiba di kampung mereka tetap berarti. Hingga kemarau berakhir, jeriken dan ember akan terus berbaris menanti giliran di bawah terik matahari.