SEMARANG — Pro-kontra rencana eksplorasi PLTP Gunung Ungaran mendorong FISIP Undip Semarang mengambil peran sebagai fasilitator. Civitas akademika menggelar Dialog Stakeholder dengan tema "Panas Bumi Gunung Ungaran: Manfaat, Resiko dan Suara Masyarakat" di Auditorium Fimena FISIP Undip.
Forum itu menghadirkan pembicara dari PT PLN sebagai operator, Kementerian ESDM, Sugeng Suwarso (Anggota DPRD RI Komisi XII yang membidangi energi), Fahmi Bastian (Direktur WALHI Jateng), Prof. Dr. Agus Setyawan (Ahli Geothermal Undip), dan ahli cagar budaya Undip.
Warga yang diundang bukan kalangan sembarang. Tokoh petani Gedong Songo — tapak panas bumi yang diproyeksikan untuk eksploitasi — hadir langsung. Begitu pula paguyuban wisata kuda, paguyuban jasa foto, penyedia tikar wisata, aktivis aliansi masyarakat penolak geothermal, dan perhimpunan hotel kawasan Bandungan.
Dari pemerintah, hadir Kades, camat, Sekda Kabupaten Semarang, Kepala Dinas ESDM Provinsi Jateng, anggota DPRD Kabupaten Semarang, dan DPRD Jateng. Turut hadir MUI, BEM Fisip Undip, ormas Muhammadiyah dan NU, serta sejumlah LSM.
Dekan FISIP Undip Dr. Teguh Yuwono menegaskan dialog ini untuk memfasilitasi semua pihak terkait geothermal agar duduk bersama mencari jalan tengah terbaik.
"Dalam dunia akademis pro dan kontra itu biasa, mari kita mencari titik temu untuk kebaikan kita bersama, tidak hanya kebaikan masyarakat sekitar, tetapi Jawa Tengah dan kepentingan nasional," katanya saat membuka acara.
Teguh menambahkan, Undip hanya memfasilitasi. Keputusan ada di tangan pemerintah dan operator pengambil kebijakan.
Wakil Rektor Undip bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik, Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., menyoroti soal cara membangun. Menurutnya, membangun untuk kemajuan sebuah keharusan, tetapi bagaimana membangun yang tidak merusak.
Keseimbangan kebutuhan energi masa depan dengan kondisi sosial masyarakat harus dicarikan titik temu.
"Undip sangat terbuka untuk berdialog memberikan ruang kepada semua stakeholder, mari berdiskusi dengan data dan fakta untuk kepentingan yang terbaik," ucapnya.
Dialog berlangsung terbuka. Masing-masing narasumber menyampaikan pandangan soal plus-minus eksplorasi geothermal Gunung Ungaran. Dari masyarakat dan aliansi penyelamat gunung, tanggapan yang muncul umumnya menolak proyek PLTP dengan dalih apa pun.
Alasannya, wilayah Candi Gedong Songo merupakan obyek wisata dan banyak candi yang harus dilindungi. Petani juga khawatir sumber air berkurang dan lingkungan terganggu.
Kementerian ESDM sudah mengeluarkan surat resmi dan menunjuk PLN sebagai operator proyek geothermal Ungaran. Proyek berkapasitas 55 Mega Watt ini akan menggunakan lahan 29 ribuan hektare untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP).
Saat ini proyek masih tahap kajian dan pengurusan izin. Jika lancar, tahap eksplorasi berjalan tahun 2029 dan tahap eksploitasi atau operasional pada 2031.
Indonesia termasuk negara yang menyepakati Paris Agreement bahwa tahun 2060 semua sumber energi harus beralih ke energi ramah lingkungan.