JAWA TENGAH — Sebelas startup Indonesia menembus babak utama Global Green Chemistry Innovation and Network Program (GGINP) 2026 setelah bersaing dengan 130 pendaftar sejak seleksi awal. Kesebelas startup tersebut diundang mengikuti matchmaking dengan calon investor di Universitas Pertamina. Program ini menyasar startup non-digital yang mengusung pendekatan kimia hijau.
Project Director GGINP Indonesia Teuku Muhammad Roffi menyebut ajang ini menerima 130 pendaftaran startup tahun ini. Dari jumlah itu, 73 startup lolos seleksi administrasi, lalu 37 startup mengikuti program pre-bootcamp sebelum akhirnya menyisakan sebelas finalis.
Kesebelas startup tersebut adalah Aither, Angphot, Blue Forest, Econella, Fure, Mustav & Co., Organic Culture, Satuplatform, STB Pallet, Tarunira, dan Zona Farm. Mereka beroperasi dengan pendekatan kimia hijau di sektor masing-masing.
Roffi menjelaskan para finalis diundang mengikuti temu pengusaha atau matchmaking. Tujuannya membuka peluang suntikan modal dari investor yang hadir.
Roffi menilai dunia startup masih menjanjikan, khususnya soal akses modal. Ia menyoroti anggapan bahwa startup yang menarik perhatian selama ini adalah yang berbasis teknologi digital.
"Yang sempat jadi sorotan itu adalah startup berbasis teknologi digital. Tetapi ini bukan startup berbasis teknologi digital," ujarnya.
Karena itu, menurut Roffi, peluang tumbuh besar dan mendapatkan modal secara global tetap terbuka bagi startup di luar sektor digital.
GGINP 2026 menjadi jalur bagi startup Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional lewat inovasi kimia hijau. Program ini menempatkan pendekatan ramah lingkungan sebagai nilai jual utama di mata investor global.
Sebelas finalis kini bersiap mengikuti main bootcamp sebagai tahap akhir sebelum peluang pendanaan dan ekspansi lebih lanjut.