JAWA TENGAH — Teknologi Optical Image Stabilization (OIS) kini bukan lagi monopoli ponsel flagship belasan juta rupiah. Sepanjang 2026, sejumlah pabrikan membenamkan sensor OIS ke lini mid-range dengan banderol 2–3 jutaan, sehingga foto minim cahaya dan video jalanan bisa tetap tajam tanpa gimbal tambahan.
Fitur OIS bekerja lewat pergerakan elemen lensa secara mekanis untuk mengompensasi guncangan tangan. Klaim teknis menyebut teknologi ini mampu menekan efek blur sampai 80 persen pada pemotretan low-light, sekaligus membuat rekaman video terasa lebih sinematik. Berikut lima pilihan yang layak masuk daftar pertimbangan.
Vivo V25e mengandalkan sensor utama 64 MP ber-OIS yang dipadukan dengan Aura Light Portrait untuk pencahayaan malam lebih natural. Kombinasi OIS dan algoritma OIS Night Mode membuat shutter speed bisa terbuka lebih lama saat kondisi minim cahaya tanpa membuat hasil foto buram.
Dukungan RAM 12GB plus Extended RAM dan penyimpanan internal 256GB menjaga proses rendering serta editing video pendek tetap lancar. Ponsel ini paling pas untuk kreator konten pemula yang sering memotret portrait di malam hari.
Infinix Note 50 Pro 4G membawa modul kamera utama 50 MP dengan OIS dan layar lengkung AMOLED. Sistem stabilisasinya cukup efektif meredam getaran mikroskopis dari genggaman tangan, terutama saat merekam video vlogging sambil berjalan.
Kapasitas memori 256GB dan pengisian daya cepat melengkapi perangkat ini sebagai HP all-rounder untuk kebutuhan multimedia harian. Cocok bagi pengguna aktif yang butuh satu perangkat untuk kerja sekaligus produksi konten.
Redmi Note 14 5G menyasar pengguna yang menuntut koneksi internet kencang sekaligus hasil jepretan minim guncangan. Kamera utamanya beresolusi 50 MP dengan OIS, ditambah lensa ultra-wide dan macro sebagai pelengkap.
Stabilisasi optik pada sensor utama otomatis mengompensasi gerakan tangan, sehingga objek bergerak cepat tetap tertangkap tajam. Fitur pemrosesan AI bawaan turut mempercepat optimasi warna untuk foto lanskap dan pemotretan malam.
Realme 12+ 5G menonjol berkat sensor Sony LYT-600 50 MP yang dikawinkan dengan SuperOIS. Sistem stabilisasi ini diklaim mampu menahan guncangan pada sudut lebih luas dibandingkan OIS standar.
Konfigurasi kamera dilengkapi lensa 8 MP ultra-wide dan 2 MP macro. Untuk pengambilan foto aksi jalanan atau rekaman sinematik cepat, hasil video tetap terlihat stabil meski tanpa gimbal profesional.
Infinix Zero X Pro menawarkan konfigurasi kamera ganda ber-OIS: sensor utama 108 MP dan lensa periskop telephoto 8 MP dengan 5x optical zoom serta 60x hybrid zoom. Kehadiran OIS di lensa periskop jadi krusial untuk meredam getaran saat menangkap objek jarak jauh.
Ponsel ini juga mendukung Moonshot Mode untuk pemotretan bulan. Pilihan tepat bagi yang hobi fotografi zoom tanpa ingin repot membawa tripod.
Kalau fokus utama adalah video berjalan atau vlogging, prioritaskan model dengan kombinasi OIS dan EIS (Electronic Image Stabilization). OIS berbasis hardware menggerakkan elemen lensa, sedangkan EIS berbasis software memotong bingkai video untuk meredam getaran.
Untuk fotografi malam, pilih sensor dengan aperture besar seperti f/1.8 atau lebih besar agar tangkapan cahaya maksimal. Siapkan pula ruang penyimpanan minimal 256GB, karena video berstabilisasi beresolusi tinggi cepat memakan memori.
Lima ponsel di atas membuktikan fitur OIS tak lagi harus dibayar mahal. Sesuaikan pilihan dengan kebiasaan memotret—apakah lebih sering di kondisi gelap, objek bergerak, atau zoom jarak jauh.