JAWA TENGAH — PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Cirebon menyiapkan program pengerukan kolam pelabuhan hingga kedalaman 6 LWS yang dijadwalkan mulai awal 2027. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat alur pelayaran dan kinerja operasional Pelabuhan Cirebon sebagai simpul logistik wilayah Ciayumajakuning. Pengerukan menyentuh seluruh kolam pelabuhan secara bertahap dan telah dikoordinasikan dengan KSOP Kelas II Cirebon.
General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Cirebon, M. Imron, menyiapkan sejumlah program kerja strategis untuk meningkatkan kinerja operasional pelabuhan. Program itu mencakup optimalisasi alur pelayaran, pemeliharaan fungsi kolam pelabuhan, pengembangan arus barang, peningkatan layanan kapal niaga, hingga penguatan konsep Integrated Heritage Port.
Rencana pengerukan merujuk pada Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Cirebon 2017 yang mengamanatkan kedalaman 6 LWS. Pekerjaan akan dilakukan bertahap untuk seluruh kolam di Pelabuhan Cirebon, bukan hanya satu titik.
"Untuk tahap awal, kolam Pelabuhan akan diperdalam (dikeruk) sampai 6 LWS, sebagaimana amanat dalam Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Cirebon 2017," kata Imron, didampingi Commercial Manager Bom Bom Nugraha, di kantornya.
Sebelum pekerjaan fisik dimulai, Pelindo Regional 2 Cirebon telah berkoordinasi dengan KSOP Kelas II Cirebon. Perusahaan juga akan mengajukan permohonan persetujuan ke Kantor Pusat Pelindo Regional 2.
Pengerukan kolam pelabuhan menyangkut keselamatan pelayaran, sehingga evaluasi kondisi alur, pemantauan kedalaman air, dan pemeliharaan kolam menjadi satu paket pekerjaan yang tidak bisa dipisah.
Jika kolam dan alur pelayaran terjaga, waktu tunggu kapal bisa ditekan dan kapasitas dukungan pelabuhan terhadap kebutuhan logistik ikut naik.
Pengerukan kolam berdampak langsung pada kinerja bongkar muat. Pelindo Regional 2 Cirebon menyiapkan optimalisasi fasilitas terminal, peningkatan kesiapan peralatan, penguatan koordinasi operasional, serta penyelarasan jadwal layanan kapal dengan aktivitas bongkar muat.
Peningkatan kinerja arus barang diharapkan memperkuat peran Pelabuhan Cirebon dalam mendistribusikan barang ke wilayah Cirebon dan daerah hinterland yang terhubung jaringan logistik pelabuhan.
Layanan yang makin terintegrasi dengan kebutuhan pengguna jasa juga ditargetkan menekan biaya rantai pasok, menjaga kepercayaan pelanggan, dan mempertahankan daya saing pelabuhan.
Layanan kapal niaga masuk agenda perbaikan kinerja. Pelindo menekankan layanan yang andal, transparan, dan terkoordinasi sejak kapal tiba, bersandar, bongkar muat, hingga berangkat.
Penguatan koordinasi dilakukan dengan perusahaan pelayaran, agen kapal, pemilik barang, operator stevedoring, dan instansi maritim terkait.
"Melalui langkah ini, Pelabuhan Cirebon diharapkan semakin mampu memenuhi kebutuhan pengguna jasa, menjaga kelancaran operasional, dan membuka peluang pertumbuhan aktivitas perdagangan dan logistik," ujar Imron.
Pelindo Regional 2 Cirebon juga menggodok konsep Integrated Heritage Port yang menyatukan fungsi pelabuhan dengan potensi warisan sejarah, identitas maritim, dan nilai budaya kawasan pesisir Cirebon.
Imron menyebut konsep ini mengangkat jejak Laksamana Cheng Ho sebagai bagian dari narasi sejarah pelabuhan. Pengembangannya diarahkan lewat perencanaan wilayah sesuai regulasi, dokumentasi sejarah pelabuhan, penguatan identitas daerah, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas sejarah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lain.
"Dengan pendekatan terintegrasi, pelabuhan tidak hanya berfungsi sebagai tempat aktivitas logistik dan perdagangan, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari narasi sejarah maritim dan pembangunan ekonomi Kota Cirebon," kata Imron.
Pelaksanaan konsep tetap harus memperhatikan keselamatan operasional, ketentuan tata ruang, aspek lingkungan, dan perlindungan objek bernilai sejarah.
Bagi pelaku usaha di Ciayumajakuning, kepastian kedalaman kolam dan alur pelayaran menentukan seberapa besar kapal yang bisa masuk serta seberapa cepat barang bergerak. Pelabuhan Cirebon sendiri punya posisi strategis karena melayani wilayah yang tidak selalu mudah dijangkau jalur darat.