JEPARA — Enam pilar berukir kayu jati di Masjid Istiklal, Sarajevo, menjadi bagian yang paling memerlukan perhatian. Kerusakannya sudah sedemikian rupa sehingga penambalan tidak lagi memadai, dan penggantian menyeluruh menjadi satu-satunya jalan. Selain pilar, restorasi menyasar tangga serta hiasan dinding masjid.
Rencana pengiriman pengukir bermula dari kunjungan Lestari Moerdijat ke Bosnia pada Februari 2026. Politikus yang akrab disapa Rerie itu mendapati sejumlah ornamen kayu di Masjid Istiklal rusak dan membutuhkan penanganan. Tawaran bantuan restorasi disambut baik pengelola masjid, lalu ditindaklanjuti lewat koordinasi dengan pihak terkait.
Ukiran yang kini diperbaiki merupakan bagian dari hadiah BJ Habibie untuk Bosnia dan Herzegovina puluhan tahun lalu. Hingga sekarang, nama para pengukir yang mengerjakan ornamen tersebut pada masa itu belum diketahui. Tiga pengukir yang berangkat kini bekerja merawat karya pendahulu mereka.
Misi tersebut menjadi upaya merawat peninggalan sejarah sekaligus memperkenalkan keterampilan ukir Jepara di kancah internasional. Bagi Jepara, keterlibatan Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo menunjukkan bahwa seni ukir tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga berperan dalam merawat peninggalan sejarah lintas negara.
"Diplomasi budaya bukan sekadar kerja sama antarpemerintah. Ketika pengukir Jepara diundang merestorasi karya bersejarah Indonesia di Sarajevo, kita sedang menunjukkan bahwa warisan bangsa memiliki nilai yang diakui lintas negara," ujar Rerie dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10/2026).
Menurut Rerie, keberadaan ukiran Jepara di Sarajevo membuktikan keterampilan tradisional Indonesia telah dikenal hingga luar negeri sejak puluhan tahun lalu. Warisan itu perlu terus dirawat agar tidak kehilangan jejak sejarahnya.
"Fakta bahwa ukiran Jepara telah hadir di Sarajevo sejak puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa keterampilan tradisional kita memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dari yang sering kita sadari. Ini adalah warisan bangsa yang harus kita rawat bersama," tuturnya.
Keberangkatan ketiga pengukir sekaligus memperlihatkan bahwa diplomasi budaya dapat dilakukan melalui keterampilan dan kerja nyata. Setelah puluhan tahun, pengukir Jepara kembali terlibat langsung merawat ornamen yang menjadi bagian dari hubungan persahabatan Indonesia dan Bosnia.
Restorasi di Masjid Istiklal sejalan dengan inisiatif memperkenalkan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pengerjaan ornamen di Sarajevo diharapkan memperluas pengenalan terhadap keterampilan ukir Jepara sekaligus memperkuat upaya memperoleh pengakuan internasional.
"Warisan budaya bukan benda mati yang hanya dipajang. Ia adalah jejak peradaban yang harus terus dirawat agar generasi berikutnya mengenali akar identitasnya. Pengukir Jepara yang bekerja di Sarajevo hari ini sedang menjaga jejak itu," kata Rerie.
Restorasi menjadi bagian dari upaya menjaga karya lintas generasi agar tetap bertahan. Karya itu sekaligus menjadi pengingat hubungan budaya antara Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina yang terbangun sejak masa pemerintahan Habibie.