KABUPATEN SEMARANG — Sofyani, 56 tahun, warga Desa Gondoriyo, Kecamatan Bergas, harus membeli sedikitnya 7 liter solar setiap hari agar pompa airnya terus menyala. Solar dibeli dari pengecer seharga Rp 10.000 per liter, sehingga pengeluaran bahan bakar pria itu menyentuh Rp 490.000 per pekan.
Biaya itu belum termasuk perawatan mesin dan penyusutan selang. Di lahan 1,5 hektare yang ditanami edamame, Sofyani menyiram secara bergantian tiap petak agar tanaman tidak mati kekeringan.
Air diambil dari sungai terdekat, lalu dipompa menuju petak-petak sawah yang jaraknya mencapai ratusan meter. Untuk petak paling ujung, Sofyani menyambung selang dan pipa paralon hampir 400 meter.
Mesin pompa yang dipakai, kata dia, merupakan bantuan pemerintah. "Berat memang, tetapi sudah tidak ada pilihan lain agar kebutuhan air tetap tercukupi," ujar Sofyani saat ditemui di Desa Gondoriyo, Rabu, 21 Oktober 2026.
Keluhan serupa muncul dari petani lain di sejumlah kecamatan. Keterbatasan air irigasi membuat pompa menjadi satu-satunya jalan menyelamatkan tanaman, dengan konsekuensi biaya produksi membengkak setiap hari.
Kemarau panjang akibat fenomena El Nino belum menunjukkan tanda berakhir. Kondisi itu memukul sektor pertanian di wilayah Kabupaten Semarang, terutama lahan yang selama ini bergantung pada irigasi permukaan.
Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha tidak menampik dampak tersebut. Menurut dia, pemerintah daerah tengah menyiapkan program pembuatan sumur dalam di desa-desa yang kerap dilanda kekeringan.
Pencarian potensi sumber air tanah dalam akan dilakukan dengan metode geolistrik agar titik pengeboran lebih akurat. Metode ini memetakan sebaran air bawah tanah sebelum pengeboran dilakukan, sehingga risiko sumur kering bisa ditekan.
Program sumur dalam dirancang sebagai jawaban atas kekeringan yang berulang tiap tahun, bukan hanya musim kemarau kali ini. Desa-desa yang berulang kali mengalami krisis air menjadi prioritas awal.
Bagi petani seperti Sofyani, kepastian sumber air berarti pengeluaran solar bisa ditekan. Selama pompa masih menjadi tumpuan, biaya produksi edamame akan terus bergantung pada harga bahan bakar di pengecer.
Pemkab Semarang belum merinci jumlah titik sumur dalam yang akan dibangun maupun anggaran yang disiapkan. Jadwal pengeboran juga belum disebutkan.