SEMARANG — Rencana pengembangan UCC Terboyo bukan sekadar bisnis penyewaan lahan fisik. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut proyek ini dirancang sebagai ekosistem yang menghubungkan aktivitas logistik dengan UMKM, koperasi, hingga jaringan transportasi.
"Proyek ini lebih dari sekadar bisnis sewa lahan fisik. Banyak peluang yang bisa kita eksplorasi untuk menjadi pendapatan pemerintah, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi," ujarnya di hadapan panelis dari Bank Indonesia Jateng, Bappeda Jateng, Universitas Diponegoro, dan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia.
Lokasi Strategis di Dekat Pelabuhan dan Tol
Nilai jual utama UCC Terboyo ada pada posisinya yang diapit sejumlah simpul transportasi penting. Kawasan ini berdekatan langsung dengan Pelabuhan Tanjung Emas, akses tol, bandara, stasiun kereta, serta kawasan industri di sekitar ibu kota Jawa Tengah tersebut.
Dengan begitu, distribusi barang dari pelabuhan ke pusat perdagangan bisa lebih efisien. Pemkot juga memproyeksikan kawasan ini menjadi solusi kemacetan perkotaan, sebab bongkar muat kendaraan besar yang selama ini tersebar di berbagai titik kota akan dikonsolidasikan di satu tempat.
"Secara ekonomi, kemacetan sangat berkorelasi terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Semarang," kata Agustina.
Integrasi dengan 16 Gudang Kecamatan dan 33.000 UMKM
Skema pengembangan UCC Terboyo tidak berjalan sendiri. Pemkot berencana mengintegrasikannya dengan pembangunan 16 gudang di tiap kecamatan yang berfungsi sebagai titik pengumpulan dan distribusi barang dari serta menuju UCC.
Langkah ini dinilai mampu memperkuat daya saing sekitar 33.000 UMKM yang tersebar di 177 kelurahan. Sistem klasterisasi produk dan distribusi yang lebih terarah menjadi kunci agar para pelaku usaha kecil tidak lagi kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas.
Skema Kolaborasi dan Kebutuhan Investasi
Pemkot membuka ruang kolaborasi yang fleksibel bagi investor dan calon pengelola. Skala bisnis bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar, sehingga tidak ada paket investasi yang kaku.
Dari total lahan 5,1 hektare yang merupakan aset Pemkot, area yang ditawarkan untuk pengembangan sekitar 4,4 hektare. Adapun kebutuhan investasi awal untuk mewujudkan Semarang Logistic Hub ini mencapai Rp 71,17 miliar.