SEMARANG — Langkah ini menjadi terobosan dalam pendidikan kemanusiaan di Kota Semarang. Para siswa tuna rungu, tuna wicara, tuna netra, hingga tuna grahita mendapatkan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Pelatihan digelar langsung oleh instruktur PMI Kota Semarang dengan metode khusus. Para guru SLB Negeri turut dilibatkan untuk membantu proses penerjemahan materi agar lebih mudah dipahami oleh seluruh peserta.
Ketua Bidang Kerja Sama dan Kemitraan PMI Kota Semarang, Eddy Herry Purnomo, mengatakan program ini menjadi tantangan baru bagi pihaknya. Sebab, untuk pertama kalinya pelatihan kepalangmerahan diberikan secara spesifik kepada penyandang disabilitas.
“Ini tantangan baru bagi PMI. Ternyata yang bisa menjadi relawan bukan hanya manusia normal, tetapi teman-teman berkebutuhan khusus juga bisa berkontribusi terhadap kemanusiaan,” ujar Eddy kepada Diswayjateng.id, Senin 11 Mei 2026.
Menurut Eddy, pendekatan pelatihan dilakukan secara perlahan dan penuh keistimewaan. Instruktur memberikan sentuhan khusus agar setiap materi dapat diserap peserta. Guru-guru SLB juga berdiskusi sebelumnya untuk menyesuaikan metode dengan kondisi siswa.
“Anak-anak SLB Negeri Semarang ini diberikan pelatihan dasar kemampuan menghadapi situasi kedaruratan dan pertolongan pertama. Mereka diharapkan menjadi pahlawan di keluarga, lingkungan sekolah maupun masyarakat,” kata Eddy.
PMI Kota Semarang menilai semangat para siswa disabilitas untuk menjadi bagian dari kegiatan kemanusiaan sangat menyentuh. Eddy mengaku terharu melihat keinginan kuat mereka untuk berkontribusi meski memiliki keterbatasan fisik maupun sensorik.
“Saya sangat terharu karena mereka memiliki semangat menjadi pahlawan kemanusiaan. Tuna grahita, tuna netra, tuna rungu maupun tuna wicara ternyata punya keinginan kuat untuk berkontribusi,” tuturnya.
Program PMR di SLB Negeri Kota Semarang ini menjadi bagian dari penguatan kemampuan dasar menghadapi situasi darurat. Selain itu, kegiatan ini juga membuka ruang partisipasi kemanusiaan bagi penyandang disabilitas di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Kehadiran PMR disabilitas diharapkan mampu menjadi sarana edukasi kesehatan dan pertolongan pertama yang inklusif. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa setiap warga negara, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi relawan kemanusiaan.