JAWA TENGAH — Mata uang Garuda tercatat terdepresiasi 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini sejalan dengan mayoritas mata uang utama Asia yang kompak berada di zona merah.
Tekanan terhadap rupiah pagi ini tidak berdiri sendiri. Ringgit Malaysia melemah 0,04 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, yen Jepang terkoreksi 0,06 persen, dan won Korea Selatan terdepresiasi paling dalam di kawasan, yakni 0,16 persen. Dolar Hong Kong juga ikut merosot tipis 0,01 persen.
Di sisi lain, yuan China dan peso Filipina justru mencatatkan penguatan tipis, masing-masing naik 0,05 persen dan 0,09 persen terhadap greenback.
Bukan hanya Asia, mata uang negara maju pun kompak melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,05 persen, poundsterling Inggris melemah 0,04 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,06 persen. Dolar Kanada dan franc Swiss juga tak luput dari tekanan, masing-masing turun 0,08 persen dan 0,03 persen.
Kondisi ini menunjukkan dominasi dolar AS masih sangat kuat di pasar global, dipicu oleh ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama di Amerika Serikat.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS pada hari ini.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS. Investor wait and see rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I Indonesia. Investor juga masih mengantisipasi respons Iran terhadap proposal terbaru Amerika Serikat," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Bagi investor pasar modal, pelemahan rupiah ke level psikologis Rp17.700 biasanya mendorong aksi jual di saham-saham berbasis impor atau yang memiliki utang dolar tinggi. Sebaliknya, emiten berbasis komoditas ekspor seperti batu bara dan sawit justru bisa diuntungkan.
Pelaku bisnis yang memiliki kewajiban dalam dolar AS disarankan untuk melakukan lindung nilai atau hedging, mengingat volatilitas masih tinggi seiring ketidakpastian geopolitik dan data ekonomi domestik yang akan dirilis. Investasi mengandung risiko.