SURAKARTA — Inisiatif ini menjawab kebutuhan mendasar akan layanan kesehatan jiwa di tingkat komunitas. Selama ini, stigma terhadap konsultasi psikolog masih tinggi di kalangan warga kelas menengah ke bawah, apalagi jika harus datang ke rumah sakit atau klinik swasta yang biayanya tidak murah.
Posyandu selama ini identik dengan penimbangan balita, imunisasi, dan pemeriksaan ibu hamil. Kesehatan mental nyaris tidak pernah masuk dalam daftar layanan rutin. Padahal, tekanan ekonomi, persoalan rumah tangga, hingga kecemasan pascamelahirkan banyak dialami warga yang setiap bulan datang ke posyandu.
Pemkot Surakarta melihat celah itu. Dengan menempatkan psikolog di Posyandu Plus, warga tidak perlu merasa "sakit jiwa" untuk berkonsultasi. Mereka cukup datang ke tempat yang sudah dikenal, bertemu dengan kader yang akrab, lalu diarahkan ke psikolog yang bertugas secara bergilir.
Kelompok pertama yang paling diuntungkan adalah ibu hamil dan ibu dengan anak balita. Depresi postpartum dan stres pengasuhan sering tidak terdeteksi karena tidak ada tenaga profesional yang bisa diajak bicara di posyandu. Dengan adanya psikolog, screening awal bisa dilakukan saat ibu datang untuk memeriksakan anaknya.
"Kami ingin deteksi dini gangguan mental ringan sebelum menjadi parah. Posyandu adalah pintu masuk yang paling efektif karena jangkauannya hingga ke RT/RW," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta dalam pernyataan yang dikutip dari rilis resmi pemkot.
Tidak semua posyandu mendapatkan psikolog setiap hari. Sebanyak 70 psikolog yang direkrut akan dijadwalkan secara bergilir ke masing-masing Posyandu Plus sesuai jadwal operasional posyandu di setiap kelurahan. Warga bisa menanyakan jadwal ke kader setempat atau melalui puskesmas kecamatan.
Layanan ini bersifat konsultasi, bukan terapi intensif. Jika ditemukan kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, psikolog akan merujuk pasien ke puskesmas atau rumah sakit rujukan yang bekerja sama dengan pemkot.
Nol rupiah. Seluruh biaya operasional dan honor psikolog ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surakarta. Pemkot mengalokasikan dana khusus untuk program ini dalam pos kesehatan jiwa masyarakat, yang sebelumnya tidak pernah ada di Posyandu.
Ini berbeda dengan program konseling di puskesmas yang kadang masih memungut biaya administrasi. Di Posyandu Plus, warga cukup datang, mendaftar ke kader, dan langsung mendapatkan jadwal konsultasi tanpa dipungut biaya.
Layanan ini mencakup konseling umum seperti stres kerja, kecemasan, masalah keluarga, hingga pendampingan psikologis bagi korban kekerasan dalam rumah tangga. Psikolog juga memberikan edukasi tentang pola asuh anak dan manajemen emosi bagi orang tua.
Program ini sekaligus menjadi upaya pemkot untuk menekan angka gangguan jiwa ringan yang kerap tidak tertangani. Data Dinas Kesehatan Solo menunjukkan bahwa kasus depresi ringan hingga sedang cukup tinggi di kalangan ibu rumah tangga, namun sebagian besar enggan mencari bantuan karena malu atau tidak tahu harus ke mana.