SUKOHARJO — Program Sekolah Rakyat (SR) di Sukoharjo masih bergulat dengan masalah daya tampung. Hingga saat ini, baru 37 siswa tingkat SD yang mendaftar dari target 90 siswa. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyebut faktor psikologis orang tua menjadi penghambat utama.
"Karena orang tua kan masih susah ya, SD melepaskan anaknya untuk di boarding itu masih susah. Belum bisalah untuk melepaskan," ujar Agus Jabo usai meninjau lokasi SR Sukoharjo, Kamis (2/7/2026).
Fasilitas Guest House untuk Redakan Kekhawatiran Orang Tua
Untuk mengatasi rasa berat hati tersebut, Kemensos tidak hanya menyiapkan asrama bagi siswa dan tenaga pengajar. Mereka juga membangun guest house khusus untuk wali murid yang ingin berkunjung.
"Memang untuk SD itu (SR Sukoharjo) masih kurang. Baru 37 dari 90 (target). Kita akan coba terus supaya nanti bisa memenuhi kuota," kata Agus.
Agus menjelaskan, fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). "Sudah disiapkan asrama untuk guru, untuk kepala sekolah, terus orang tua kalau sewaktu-waktu mau datang juga sudah disiapkan guest house," bebernya.
Bukan Hanya di Sukoharjo, Masalah Ini Bersifat Nasional
Wamensos mengakui bahwa persoalan serupa terjadi di daerah lain. Pihaknya saat ini terus memberikan pengertian kepada orang tua agar anak-anak mereka bisa mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Iya memang, ya tadi sudah saya sampaikan karena orang tua ya, orang tua belum bisa untuk melepaskan. Makanya kita sedang berusaha untuk memberikan pengertian ya, supaya anaknya bisa sekolah, orang tuanya setuju, dan mereka sewaktu-waktu bisa menjenguk," pungkasnya.
Pemerintah berharap dengan adanya guest house, orang tua tidak ragu lagi mendaftarkan anak mereka ke Sekolah Rakyat yang menyediakan pendidikan gratis dan fasilitas asrama lengkap.