SEMARANG — Gerakan kesetaraan gender kerap masih dipahami secara sempit di kalangan mahasiswa. Melalui program “Next Gen Leader”, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) mencoba mengubah persepsi itu dengan pendekatan diskusi dan simulasi kepemimpinan.
Kampanye ini menyasar mahasiswa baru karena dianggap sebagai titik kritis pembentukan pola pikir. Menurut panitia, banyak mahasiswa baru yang masih membawa stereotip gender dari lingkungan asal, seperti anggapan bahwa pemimpin ideal harus maskulin atau dominan.
“Padahal, kepemimpinan yang efektif tidak ditentukan oleh gender, melainkan kompetensi, empati, dan kemampuan berkolaborasi,” ujar Koordinator Program, Andini Putri, dalam siaran pers yang diterima redaksi.
Kegiatan berlangsung selama dua hari di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USM. Mahasiswa diajak mengikuti simulasi pengambilan keputusan dalam tim yang anggotanya memiliki latar belakang gender beragam. Mereka juga berdiskusi tentang representasi perempuan dalam struktur organisasi kampus dan dunia kerja.
“Kami tidak hanya bicara teori. Mereka harus merasakan langsung bagaimana rasanya dipimpin oleh perempuan, atau memimpin tim yang mayoritas laki-laki,” tambah Andini.
Sejumlah peserta mengaku baru menyadari bahwa mereka selama ini memiliki bias gender tanpa sadar. “Awalnya saya pikir wajar kalau ketua organisasi selalu laki-laki. Ternyata itu hasil konstruksi sosial, bukan bakat alami,” kata Rizky, peserta dari Fakultas Hukum.
Panitia mencatat, setidaknya 65 mahasiswa baru dari berbagai fakultas mengikuti rangkaian program ini. Mereka berharap “Next Gen Leader” bisa menjadi agenda tahunan dan diperluas ke kampus-kampus lain di Jawa Tengah.
Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) 2023 menunjukkan, representasi perempuan di posisi pengambil keputusan di perguruan tinggi Indonesia masih di bawah 30 persen. Di Jawa Tengah, jumlah rektor perempuan bahkan tak mencapai 10 persen dari total 50 universitas negeri dan swasta.
Kondisi ini yang mendorong mahasiswa Ilmu Komunikasi USM untuk memulai dari lingkungan terdekat. “Kalau bukan dari kampus, dari mana lagi? Mahasiswa harus jadi agen perubahan,” ujar Andini.
1. Apa tujuan utama program “Next Gen Leader”?
Program ini bertujuan membangun kesadaran tentang kepemimpinan inklusif dan kesetaraan gender di kalangan mahasiswa baru, khususnya di lingkungan Universitas Semarang.
2. Siapa yang bisa mengikuti program ini?
Saat ini program menyasar mahasiswa baru USM dari seluruh fakultas. Ke depan, panitia berencana membuka partisipasi untuk mahasiswa dari universitas lain di Jawa Tengah.