UNGARAN — Sapi milik peternak asal Kecamatan Banyubiru itu dipilih langsung oleh tim dari Istana Kepresidenan. Proses seleksi dilakukan beberapa pekan lalu dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan dan postur sapi meskipun bobotnya tidak lazim untuk kategori sapi kurban presiden.
Tim kurator dari Istana menilai sapi jenis Peranakan Ongole (PO) ini memiliki struktur tulang yang proporsional dan kesehatan yang prima. Faktor usia lima tahun juga dinilai ideal karena sapi berada dalam masa produktif.
Bobot 1,48 kilogram yang tercantum dalam dokumen resmi merujuk pada berat karkas bersih setelah pemotongan, bukan berat hidup sapi. Dalam tradisi kurban, berat hidup sapi biasanya berkisar antara 800 kilogram hingga 1,2 ton untuk sapi PO dewasa.
Nilai Rp 103 juta yang dibayarkan untuk sapi Untung Rahardjo dinilai wajar oleh pedagang sapi di Pasar Hewan Ambarawa. Harga tersebut sudah termasuk biaya karantina, pemeriksaan kesehatan, dan transportasi ke Jakarta.
“Harga segitu untuk sapi PO kualitas super sudah pas. Apalagi ini untuk presiden, pasti ada standar khusus dari sisi kesehatan dan perawatan,” ujar salah satu peternak di Kecamatan Banyubiru yang enggan disebut namanya.
Pemilik sapi mendapatkan kompensasi penuh sesuai harga yang ditetapkan. Selain itu, pemerintah daerah setempat memberikan penghargaan berupa bantuan pakan ternak gratis selama tiga bulan ke depan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Semarang menyebutkan bahwa pemilihan sapi kurban presiden dari wilayahnya menjadi kebanggaan tersendiri. “Ini membuktikan kualitas sapi lokal kita mampu bersaing di tingkat nasional,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Peternakan Jawa Tengah, rata-rata bobot sapi kurban yang dikirim ke Jakarta pada tahun 2024 berkisar antara 1,2 kilogram hingga 1,5 kilogram untuk karkas bersih. Bobot 1,48 kilogram pada sapi Untung Rahardjo berada di atas rata-rata tersebut.
Proses pemotongan sapi kurban presiden rencananya akan dilakukan di Jakarta pada hari raya Idul Adha mendatang. Daging kurban akan didistribusikan ke sejumlah panti asuhan dan masyarakat kurang mampu di sekitar Istana Negara.