SEMARANG — Ribuan warga kurang mampu di Kota Semarang kebagian jatah daging kurban segar setelah LDII setempat menyembelih 349 sapi dan 131 kambing. Hewan-hewan tersebut dikumpulkan dari pengurus dan anggota LDII yang tersebar di seluruh Jawa Tengah. Proses penyembelihan dilakukan di sejumlah titik, dengan daging langsung dikemas dan diantar ke rumah-rumah warga.
Berbeda dengan pembagian kurban pada umumnya yang menunggu warga datang ke masjid, panitia LDII Semarang memilih sistem door-to-door. Daging yang sudah dipotong dan dikemas dalam kantong plastik bersih diantarkan langsung ke penerima yang sudah terdata sebelumnya. “Kami targetkan daging sampai ke tangan mustahik dalam kondisi segar, tidak lebih dari enam jam setelah penyembelihan,” ujar Ketua Panitia Kurban LDII Semarang.
Jika dirata-rata, seekor sapi menghasilkan sekitar 150 kilogram daging murni. Dengan 349 sapi, total daging sapi yang dibagikan mencapai lebih dari 52 ton. Ditambah 131 kambing yang masing-masing menghasilkan rata-rata 15 kilogram daging, total keseluruhan daging kurban LDII Semarang tahun ini diperkirakan mencapai 54 ton lebih. Jumlah tersebut menjadikan kegiatan ini sebagai salah satu distribusi kurban terbesar di Jawa Tengah pada Idul Adha tahun ini.
Model kurban kolektif seperti ini dipilih untuk efisiensi logistik dan pendistribusian. Daripada setiap anggota LDII menyembelih sendiri-sendiri di kampungnya, dana digabung sehingga bisa membeli hewan dalam jumlah besar dengan harga lebih murah. Selain itu, panitia bisa memastikan daging tersebar merata ke wilayah yang benar-benar membutuhkan, bukan hanya di sekitar masjid atau musala.
Penerima daging kurban tidak terbatas pada anggota LDII. Panitia menyisir data warga dhuafa dari berbagai RT dan RW di Semarang, termasuk lansia, janda, dan keluarga dengan penghasilan di bawah upah minimum. “Kami tidak membedakan latar belakang. Siapa pun yang butuh, kami antar,” tambah panitia.
Pembelian 349 sapi dan 131 kambing dalam satu waktu jelas menggerakkan pasar hewan ternak di Jawa Tengah. Peternak lokal di Semarang, Demak, dan Grobogan menjadi pemasok utama. Panitia mengaku sudah memesan hewan sejak dua bulan sebelum Idul Adha untuk menghindari lonjakan harga. Langkah ini sekaligus membantu peternak mendapatkan kepastian pasar di momen puncak permintaan.
LDII Semarang juga mengelola limbah penyembelihan, seperti kulit, tulang, dan jeroan. Kulit sapi dan kambing dijual ke pengumpul, hasilnya masuk ke kas sosial organisasi. Sementara tulang dan jeroan diolah menjadi pakan ternak atau dijual ke pabrik tepung tulang. “Kami usahakan zero waste. Semua bagian hewan kurban punya nilai ekonomi,” kata panitia.
Distribusi daging kurban dijadwalkan selesai pada Selasa (18/6) siang. Panitia mencatat masih ada sisa permintaan dari beberapa kelurahan di Semarang Utara dan Semarang Barat yang akan dipenuhi pada gelombang kedua jika dana masih mencukupi.