Dino Patti Djalal: Eks Dubes yang Kariernya Lebih Tua dari Seskab Teddy, Kini Dikritik Usai Jadi Wamenlu 3 Bulan

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 00:06:58 WIB
Dino Patti Djalal menghadiri rapat koordinasi Kementerian Luar Negeri di Jakarta.

JAKARTA — Nama Dino Patti Djalal kembali menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial dan politik nasional. Bukan karena prestasi diplomatiknya, melainkan karena kritik pedas yang dialamatkan kepadanya setelah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri selama tiga bulan. Kritik itu menyebutnya kurang greget dan tak mampu mengimbangi gaya kepemimpinan Menteri Luar Negeri Sugiono yang dianggap lebih agresif.

Karier Diplomatik yang Panjang: Sejak Era Orde Baru

Dino Patti Djalal memulai kariernya di Departemen Luar Negeri pada tahun 1991. Artinya, ketika Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya lahir pada tahun 1993, Dino sudah menjadi diplomat aktif yang menangani isu-isu strategis di kawasan Asia Pasifik. Ia mengawali tugas di Direktorat Asia Pasifik, kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Ketiga di Kedutaan Besar RI di Washington DC pada 1994.

Kariernya terus menanjak. Dino pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Luar Negeri, lalu menjadi Juru Bicara Departemen Luar Negeri pada era Menteri Hassan Wirajuda. Puncaknya, ia dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (2010-2013) dan Duta Besar RI untuk Rusia merangkap Belarus (2016-2020).

Kritik di Tengah Tugas Baru: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Setelah dilantik sebagai Wakil Menteri Luar Negeri pada Oktober 2024, Dino dihadapkan pada ekspektasi besar. Publik mengharapkan seorang diplomat senior mampu memberikan masukan strategis di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Namun, kritik mulai bermunculan, terutama dari kalangan pengamat hubungan internasional, yang menilai perannya di Kementerian Luar Negeri kurang terlihat.

“Dia lebih banyak diam di belakang. Padahal, pengalamannya sangat dibutuhkan untuk memperkuat posisi Indonesia di forum multilateral,” ujar seorang pengamat politik luar negeri yang enggan disebut namanya. Kritik ini kemudian viral di media sosial, memicu perdebatan antara yang membela rekam jejak Dino dan yang menuntut kinerja lebih nyata.

Perbandingan dengan Seskab Teddy: Dua Generasi Berbeda di Panggung Politik

Kontras antara Dino dan Seskab Teddy Indra Wijaya menjadi sorotan utama. Teddy, yang lahir pada 1993, adalah lulusan Akademi Militer yang kini menjabat sebagai Sekretaris Kabinet di usia muda. Sementara Dino, yang lahir pada 1965, adalah diplomat kawakan yang sudah malang melintang di panggung internasional sejak Teddy belum lahir.

Perbedaan generasi ini kemudian memunculkan narasi bahwa pengalaman panjang Dino seharusnya menjadi aset, bukan justru membuatnya dianggap lamban. “Ini soal gaya kerja. Teddy lebih vokal di media sosial dan publik, sementara Dino mungkin lebih memilih kerja di belakang meja,” kata seorang mantan diplomat senior yang pernah bekerja bersama Dino.

Apa Langkah Dino Selanjutnya?

Hingga berita ini diturunkan, Dino Patti Djalal belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik yang beredar. Namun, sumber di lingkungan Kementerian Luar Negeri menyebutkan bahwa ia tetap fokus pada tugasnya, terutama dalam mempersiapkan agenda diplomasi ekonomi dan perlindungan WNI di luar negeri. Publik pun menantikan apakah diplomat senior ini akan mampu membalikkan persepsi negatif dalam waktu dekat.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: radarsolo.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top