JAWA TENGAH — Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick baru-baru ini mengungkapkan kekhawatirannya kepada para eksekutif senior ASML. Menurut laporan Bloomberg, Lutnick memiliki bukti bahwa komponen dan peralatan transportasi terkait mesin EUV telah dikirim ke China. Namun, pihak Kementerian Perdagangan AS berulang kali menolak menunjukkan bukti tersebut, baik kepada Bloomberg maupun kepada ASML sendiri.
EUV (Extreme Ultraviolet) lithography adalah proses pencetakan pola sirkuit mikroskopis yang menjadi tulang punggung pembuatan chip paling canggih di dunia. Hanya ASML yang mampu membuat mesin ini, dan proses pengembangannya memakan waktu hampir dua dekade serta biaya miliaran dolar.
Setiap prosesor mutakhir buatan TSMC—foundry di balik chip Nvidia dan Apple—bergantung pada mesin ASML. Monopoli ini menjadikan ASML perusahaan publik paling bernilai di Eropa dengan kapitalisasi pasar sekitar 700 miliar dolar AS (sekitar Rp 11.550 triliun) per pekan ini.
CEO ASML Christophe Fouquet, dalam wawancara eksklusif enam pekan lalu sebelum berita ini mencuat, menjelaskan sistem pengawasan ketat perusahaannya. "ASML tracks every machine it has ever shipped — they’re either in active use with monitored customers or have been dismantled and returned to the company," kata Fouquet kepada Bloomberg.
Ia juga mengungkapkan bahwa ASML telah membangun firewall internal bertahun-tahun lalu. Karyawan yang memiliki akses ke teknologi, dokumentasi, dan pelatihan EUV dipisahkan secara ketat dari yang tidak. Staf ASML di China sengaja ditempatkan di sisi yang salah dari tembok pemisah itu.
Fouquet berargumen bahwa mustahil melakukan reverse-engineering terhadap mesin yang tidak pernah dimiliki. "Nobody in China has had one," tegasnya.
Ada alasan komersial kuat yang membuat tuduhan ini sulit dipercaya. ASML memang menjual mesin deep ultraviolet (DUV) generasi lama ke China—peralatan yang pertama kali dikirim satu dekade lalu. Namun, Fouquet membingkai penjualan itu sebagai kalkulasi protektif, bukan celah regulasi.
Tujuannya adalah menjaga jarak generasi agar pelanggan China tetap bisa berbisnis tanpa menciptakan kompetitor masa depan bagi ASML sendiri. Perusahaan memperkirakan sekitar 20 persen pendapatan tahun 2026 akan berasal dari penjualan yang sudah diizinkan ke China. Mempertaruhkan larangan EUV secara keseluruhan demi satu penjualan ilegal jelas tidak masuk akal secara bisnis.
Menariknya, Kementerian Perdagangan AS di bawah kepemimpinan Lutnick tahun lalu setuju mengucurkan dana hingga 150 juta dolar AS untuk xLight, startup yang mengembangkan teknologi sumber cahaya generasi berikutnya. Teknologi ini disebut-sebut sebagai tantangan jangka panjang terhadap monopoli inti EUV milik ASML.
Namun, CEO xLight sendiri mengaku perusahaannya melihat diri sebagai mitra masa depan ASML, bukan pesaing. Saat dimintai tanggapan, Fouquet bersikap sopan namun tidak yakin. Ia menegaskan ASML tidak membutuhkan teknologi xLight untuk mempertahankan keunggulannya.
Belum ada bukti publik yang menghubungkan investigasi Lutnick dengan investasi di xLight. Namun, fakta bahwa seorang pejabat federal mengawasi ketat sebuah perusahaan monopoli sementara instansinya memiliki kepentingan finansial pada startup yang berusaha memperbaiki teknologi inti perusahaan tersebut patut dicermati.
Sampai saat ini, pemerintah AS belum merilis bukti publik atas tuduhannya. ASML pun terus membantah dengan data pelacakan mesin dan sistem keamanan internalnya. Sengketa ini masih jauh dari kata selesai, dan keputusan akhir akan sangat menentukan peta persaingan industri chip global—termasuk dampaknya terhadap pasokan chip ke perangkat konsumen di Indonesia.