SEMARANG — PSIS Semarang tidak ingin berlama-lama berkutat di kasta kedua sepak bola nasional. Target tegas untuk kembali ke Super League sudah dipasang untuk musim kompetisi Pegadaian Championship 2026/2027.
Ambisi itu disusun setelah Laskar Mahesa Jenar nyaris terdegradasi ke Liga Nusantara pada musim sebelumnya. Manajemen baru yang dipimpin COO Faris Julinar Maurisal dan CEO Datu Nova kini bergerak cepat membenahi tim dari hulu ke hilir, termasuk aspek mentalitas bertanding.
Pelatih Widodo C. Putro menerjemahkan target promosi tersebut lewat perubahan pendekatan permainan yang agresif. Ia menegaskan tidak ada lagi istilah bermain bertahan saat melakoni laga tandang demi mengamankan satu poin.
“Sekarang tidak ada namanya away harus bermain bertahan. Di away, kami usahakan juga bermain menyerang, karena kami ingin memenangkan pertandingan,” tegas Widodo.
Konsekuensinya, para pemain dituntut memiliki kebugaran fisik prima, keberanian, dan mental bertanding yang kuat. PSIS ingin tampil proaktif baik di kandang sendiri, Stadion Jatidiri, maupun saat menghadapi tekanan suporter lawan.
Selain mengubah gaya bermain, Widodo juga menyiapkan banyak opsi untuk memenuhi regulasi pemain U-21. Pada Championship 2026/2027, setiap tim wajib memainkan dua pemain muda dengan total waktu bermain minimal 90 menit dalam satu pertandingan.
Saat ini PSIS memiliki sejumlah nama muda yang dinilai siap menjalankan peran tersebut. Seva dan Fadis mendapat penilaian positif dalam laga pramusim, sementara Amirul membawa modal pengalaman setelah dua musim memperkuat Deltras.
Widodo masih membuka peluang mendatangkan dua hingga empat pemain muda tambahan. Strategi ini dinilai penting untuk memperkaya pilihan dan memungkinkan rotasi sesuai kebutuhan pertandingan.
“Saya berharap pemain regulasi itu tidak hanya khusus sayap yang main terus. Saya akan rotasi. Kalau sayap capek, mungkin bisa gelandang atau bek,” ungkap Widodo.
Persiapan PSIS menuju kompetisi resmi juga ditempa melalui serangkaian pertandingan uji coba melawan tim-tim level atas. Laga melawan Persebaya, Persik Kediri, dan Bhayangkara Presisi FC menjadi bagian dari proses membangun kekuatan serta mentalitas skuad.
Bagi Widodo, pertandingan dengan intensitas tinggi adalah kesempatan ideal untuk mengukur perkembangan tim sebelum kompetisi resmi dimulai. Hasil akhir memang penting, tetapi yang lebih utama adalah melihat sejauh mana para pemain mampu menyerap instruksi dan beradaptasi dengan tekanan.