SEMARANG — Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Semarang Raya menggelar aksi unjuk rasa di Jalan Pemuda, Kota Semarang, pada Rabu (26/8/2026). Mereka melakukan long march dari kawasan Paragon Mall dan berhenti di dekat lampu merah Lawang Sewu setelah laju massa dihadang barisan Polwan.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 16.00 WIB, massa aksi berhadapan langsung dengan blokade aparat yang menjaga jalur menuju bundaran Tugu Muda. Karena tak dapat melanjutkan perjalanan, mahasiswa bergantian berorasi dari atas mobil komando.
Suasana aksi berubah saat peserta aksi serentak menyanyikan lagu "Tombo Ati" yang dipopulerkan Opick. Lirik lagu tersebut sengaja diubah untuk menyuarakan kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Meski tertahan, massa terus berupaya mendorong agar dapat bergerak menuju Tugu Muda yang menjadi titik utama aksi. Hingga pukul 17.00 WIB, aparat kepolisian masih bertahan menghalau massa agar tidak melintas ke kawasan tersebut.
Perwakilan BEM Universitas Diponegoro (Undip), Rangga, menjelaskan bahwa Tugu Muda dipilih karena memiliki nilai historis kuat bagi perjuangan rakyat Semarang.
"Tugu Muda ini menjadi nilai historis. Sejarah perjuangan pemuda dan masyarakat Semarang pada Oktober 1945, yaitu Pertempuran Lima Hari di Semarang," kata Rangga di sela-sela aksi.
Menurutnya, BEM Semarang Raya sengaja tidak lagi memusatkan aksi di depan kantor pemerintahan seperti DPRD maupun Kantor Gubernur Jawa Tengah. Pasalnya, aspirasi yang selama ini disampaikan dinilai tidak mendapat respons.
"Sampai hari ini poin tuntutan yang kami sampaikan di depan kantor DPR maupun kantor gubernur tidak mau didengar maupun digubris pemerintah. Oleh karena itu BEM Semarang Raya melakukan gebrakan dengan aksi di Tugu Muda," ujarnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima tuntutan yang berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan nasional. Pertama, menurunkan harga bahan pokok dan harga BBM. Kedua, mengembalikan TNI dan Polri pada fungsi utamanya sesuai tugas dan kewenangannya.
Ketiga, mahasiswa meminta evaluasi total terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penghentian program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Keempat, mereka menuntut pengembalian kepemilikan tanah kepada rakyat serta percepatan revitalisasi wilayah terdampak bencana.
Tuntutan kelima adalah penghentian praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di lingkungan pemerintahan.
Aksi ini diikuti mahasiswa dari Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), UIN Walisongo, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Universitas PGRI Semarang (Upgris), dan Politeknik Negeri Semarang (Polines).
Selain itu, turut hadir mahasiswa dari Universitas Katolik Soegijapranata (Unika), Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), hingga Universitas Semarang (USM). Rangga juga membandingkan aksi tersebut dengan demonstrasi mahasiswa di Bundaran HI Jakarta yang sebelumnya mendapat pengawalan ketat aparat.