WONOGIRI — Sebelum JELITA dijalankan, survei internal SMPN 2 Girimarto menunjukkan baru 48 persen murid masuk kategori kemampuan literasi baik. Murid dinilai masih kesulitan memahami inti bacaan, bersikap pasif terhadap informasi, dan kurang mengenali potensi lingkungan di sekitarnya.
Program JELITA dirancang untuk mengubah pola itu. Ada tiga bagian utama yang dijalankan sekolah: JOARSA atau Pojok Baca Bersama, Outing Class Potensi Lokal, dan Proyek Kreatif.
Lewat JOARSA, sudut-sudut kelas dimanfaatkan sebagai ruang membaca bersama. Murid didorong memahami bacaan lebih mendalam sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis.
Pendekatan ini membuat aktivitas literasi tidak berhenti pada rutinitas membaca di dalam kelas. Murid diarahkan tidak hanya membaca informasi, tetapi juga mengolah, menganalisis, dan menghasilkan karya.
Kegiatan outing class membawa proses belajar keluar dari ruang kelas. Murid diajak mengenali langsung potensi lingkungan dan kearifan lokal di Kecamatan Girimarto.
Lingkungan sekitar tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga diubah menjadi sumber bahan belajar. Hasil eksplorasi murid dituangkan melalui majalah dinding maupun laporan eksploratif.
Kepala SMPN 2 Girimarto, Rahayu Widayanti, mengatakan program ini dibuat untuk menggeser cara pandang terhadap literasi di sekolah.
"Kami ingin menggeser paradigma literasi agar tidak sekadar menjadi rutinitas administratif atau formalitas semata. Melalui JELITA, kami menghadirkan ekosistem belajar yang mindful, meaningful, dan joyful, sehingga murid tidak hanya membaca teks, tetapi juga mampu menganalisis realitas lingkungan sekitarnya dan menuangkannya ke dalam karya nyata berbasis pemecahan masalah," ujarnya, Rabu (23/9/2026).
JELITA dirancang memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia di lingkungan sekolah dan masyarakat. Sekolah menggunakan potensi alam, budaya, dan komunitas lokal sebagai bagian dari proses belajar tanpa mengandalkan pembangunan infrastruktur teknologi dengan biaya besar.
Pendekatan itu membuat murid lebih dekat dengan potensi agraris dan budaya di Girimarto. Mereka diarahkan mengamati lingkungan, menemukan persoalan, dan menyusun karya berdasarkan hasil pengamatan.
Bagi guru, JELITA menjadi alternatif mengembangkan pembelajaran yang lebih kontekstual. Bagi lingkungan sekitar, kegiatan eksplorasi murid ikut mengenalkan potensi lokal yang selama ini berada dekat dengan kehidupan mereka.
Dari evaluasi akhir yang dilakukan sekolah, persentase murid dengan kemampuan literasi baik tercatat mencapai 72 persen. Angka itu naik 24 poin persentase dari kondisi awal 48 persen.
Program tersebut juga dikaitkan dengan upaya mendukung pembelajaran mendalam dan penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. SMPN 2 Girimarto kini memiliki pengalaman baru dalam mengembangkan gerakan literasi yang menghubungkan buku, lingkungan, dan karya murid dalam satu rangkaian pembelajaran.