Bank Indonesia Jateng Gelar Rupiah Tresno Budoyo 2026, 21.840 Keping Uang Logam Ditukar Warga Semarang

Penulis: Surya Dinata  •  Minggu, 27 September 2026 | 07:17:01 WIB
Warga menukarkan uang logam tidak layak edar dalam layanan Bank Indonesia Jawa Tengah di Semarang.

SEMARANG — Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Anggis Rakhmi Ichsan, menyatakan pendekatan budaya dipilih agar edukasi mengenai Rupiah dan sistem pembayaran lebih mudah diterima masyarakat. Kegiatan itu tidak hanya diisi pertunjukan seni, tetapi juga sejumlah program yang berkaitan dengan pengendalian inflasi pangan.

Sejak pagi, Bank Indonesia membuka layanan pengembalian uang logam tidak layak edar. Warga yang datang bisa menukar koin lama dengan uang berkondisi lebih baik.

84 Warga Tukar 21.840 Keping Uang Logam

Layanan penukaran uang logam mencatat 84 orang melakukan transaksi dengan total sekitar 21.840 keping. Nilai uang yang ditukarkan mencapai sekitar Rp8,3 juta.

"Ini cukup banyak. Alhamdulillah sudah sangat baik dan akan kami dorong lagi supaya pengembalian uang yang tidak layak edar, khususnya uang logam, bisa semakin meningkat," ujar Anggis.

Program pengembalian uang logam menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia menarik koin rusak dari peredaran. Koin yang terkumpul kemudian diganti dengan uang dengan kondisi lebih layak.

Sendratari Laksamana Cheng Ho dan Analogi Pembayaran Lintas Negara

Pada malam hari, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan sendratari yang digarap Eco Dance Company bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Pertunjukan itu melibatkan mahasiswa dari Surakarta serta Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Kisah Laksamana Cheng Ho dipilih karena dinilai memiliki keterkaitan sejarah dengan Kota Semarang. Anggis menjelaskan tokoh tersebut menggambarkan hubungan panjang antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok yang telah berlangsung sejak masa lalu.

"Kami mengambil inspirasi dari Laksamana Cheng Ho yang datang dari Tiongkok ke Semarang. Kehadirannya menjadi bagian dari sejarah hubungan Indonesia dan Tiongkok yang sudah berlangsung sejak dahulu kala," jelasnya.

Hubungan tersebut kemudian berkembang hingga memasuki era sistem pembayaran digital. Salah satunya melalui kerja sama cross-border payment antara Indonesia dan Tiongkok.

Konsep akulturasi budaya dalam pertunjukan dianalogikan dengan proses integrasi sistem pembayaran kedua negara. Anggis menyebut akulturasi memberi inspirasi bagi cara mengakulturasikan sistem pembayaran Tiongkok dan Indonesia.

Transaksi Non Tunai Award untuk Pemerintah Daerah Jateng

Bank Indonesia Jawa Tengah juga memberikan apresiasi melalui Transaksi Non Tunai Award. Penghargaan itu merupakan dukungan terhadap pemerintah daerah di Jawa Tengah dalam meningkatkan penggunaan transaksi non tunai.

Peserta penghargaan tersebut merupakan pemerintah daerah di seluruh Jawa Tengah. Sejumlah indikator digunakan dalam proses penilaian, di antaranya penggunaan Kartu Kredit Indonesia (KKI) serta optimalisasi transaksi non tunai untuk pembayaran pajak dan retribusi daerah.

"Ini kami upayakan untuk memberikan insentif bagi pemerintah daerah di Jawa Tengah agar terus dan berkesinambungan menerapkan transaksi non tunai," ujarnya.

Peningkatan transaksi non tunai tidak hanya berkaitan dengan digitalisasi pembayaran. Bank Indonesia berharap langkah itu memperkuat ekosistem ekonomi daerah dan mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Semarang sebagai Ruang Pertemuan Sejarah dan Teknologi

Sutradara Eco Dance Company, Prof. Dr. Eko Supriyanto, mengatakan pertunjukan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah, budaya, seni, teknologi, dan konektivitas ekonomi. Ia menilai Semarang memiliki kekayaan sejarah yang memungkinkan berbagai unsur budaya bertemu dan berkembang melalui proses akulturasi.

"Semarang merupakan tempat yang luar biasa, tempat yang memberikan keleluasaan bagi sejarah hadir untuk masyarakat sekarang dan generasi sekarang, dengan akulturasinya dan segala aspek dalam konteks budaya," kata Eko.

Menurut Eko, sejarah Laksamana Cheng Ho di Semarang dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan bagaimana hubungan antarmasyarakat dari berbagai latar belakang telah terbentuk sejak masa lalu. Sejumlah kesenian dan budaya di Semarang juga menunjukkan proses akulturasi antara budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa.

"Selain akulturasi budaya, ada Gambang Semarang. Ada tari-tarian yang hadir dari akulturasi," ujarnya.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: jatengnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top