JAWA TENGAH — Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulanan September 2026 sebesar 0,30%, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang terbesar. Cabai rawit memberi andil 0,08%, disusul cabai merah 0,06% dan daging ayam ras 0,05%. Kenaikan harga pangan ini terjadi di tengah prediksi El Nino yang berpotensi menekan produksi hingga awal 2027.
Indeks Harga Konsumen naik dari 111,97 pada Agustus menjadi 112,31 pada September 2026. Secara tahunan, inflasi tercatat 3,28%, sementara inflasi tahun kalender mencapai 2,17%. Komponen harga bergejolak (volatile food) menjadi motor utama dengan inflasi 1,46% dan andil 0,24% terhadap inflasi bulanan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,88% dengan andil 0,26%.
"Kelompok pengeluaran yang mendorong inflasi pada bulan September 2026 terutama makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi sebesar 0,88% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,26%," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10).
Kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah terjadi seiring penurunan produksi di sejumlah daerah sentra. Produksi cabai rawit menurun terutama di Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, dan Magelang. Sementara produksi cabai merah turun antara lain di Bandung, Garut, dan Malang.
Selain cabai, sejumlah komoditas pangan lain turut menyumbang inflasi:
Harga daging ayam ras meningkat dengan andil inflasi 0,05%. BPS mencatat kenaikan tersebut didorong oleh kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah serta kenaikan harga pakan ternak.
Komponen inti mengalami inflasi 0,10% dengan andil 0,06% terhadap inflasi September. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sangat rendah atau mendekati nol.
"Inflasi September tahun 2026 yang sudah saya sebutkan tadi yaitu 0,30% utamanya didorong oleh inflasi komponen bergejolak," kata Ateng.
BPS mengingatkan adanya risiko terhadap harga pangan ke depan. BMKG telah merilis prediksi El Nino pada 2026 yang berpotensi bertahan hingga awal 2027.
"Hal ini perlu menjadi perhatian terkait dampaknya terhadap perubahan harga terutama pada komoditas pangan," kata Ateng.
Bagi investor, lonjakan volatile food menjadi sinyal yang perlu dicermati. Tekanan harga pangan bergejolak dapat memengaruhi daya beli masyarakat sekaligus menjadi pertimbangan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas suku bunga. Pelaku bisnis di sektor ritel dan distribusi pangan perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga bahan baku dalam beberapa bulan mendatang.