Situs Padas Klaten Simpan Jejak Permukiman Era Paleometalik, Artefak Gerabah Ditemukan Warga Sejak 1981

Penulis: Puguh Triyono  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 09:46:31 WIB
Warga menunjukkan lokasi Watu Kenteng di sawah Desa Padas, Karanganom, Klaten, yang menjadi tempat temuan gerabah era paleometalik.

KLATEN — Warga Desa Padas, Kecamatan Karanganom, menemukan berbagai wadah gerabah saat mengolah tanah sawah di area yang dikenal sebagai Watu Kenteng. Tanah liat di lokasi itu biasa diambil untuk bahan pembuatan genteng karena kualitasnya dinilai bagus.

Temuan itu kemudian dilaporkan ke pihak berwenang dan ditindaklanjuti dengan ekskavasi oleh tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1981. Laporan kegiatan penelitian arkeologi periode Pelita III (1979-1984) mencatat penggalian di Desa Padas masuk kategori penelitian prasejarah era paleometalik.

Gerabah hingga Fragmen Tombak Terangkat dari Sawah Padas

Laporan tersebut menyebut ekskavasi dipimpin Lucas Partanda Koestoro dengan tujuan penjajagan, berkaitan dengan penemuan berbagai wadah gerabah di Situs Padas. Hasil penelitian berupa pasu, mangkuk, periuk, tumpukan gerabah dengan sebuah fragmen tombak di dalamnya, serta benda besi dan fragmen tombak.

Mantan Kepala Desa Padas, Suparno, menuturkan temuan arkeologi itu terjadi sekitar tahun 1981. Saat itu warga yang menggarap sawah kerap menemukan benda-benda di lokasi.

"Setiap garap sawah nggletak wonten mriku (ditemukan di situ). Karena tidak tahu akhirnya dilaporkan," ungkap Suparno kepada detikJateng di rumahnya, Minggu (25/10/2026) siang.

Suparno yang menjabat kades pada 1974-1998 menambahkan, tim purbakala kemudian datang melakukan penggalian. Sejumlah benda dibawa petugas ke luar lokasi, dan sebagian warga menduga dibawa ke Prambanan.

Watu Kenteng Kini Jadi Sawah, Batu Andesit Mulai Rusak

Lokasi temuan yang disebut Watu Kenteng saat ini berubah menjadi sawah. Di tengah sawah yang baru selesai dibajak masih terlihat batu berbentuk oval sepanjang sekitar 1 meter.

Batu berbahan andesit itu mulai rusak dan terkikis. Bentuknya sekilas menyerupai lumpang untuk menumbuk padi, tetapi lebih lonjong, dengan beberapa batu biasa belum dibentuk di sekitarnya.

Mugiyono (58), warga Desa Padas, mengingat proses penggalian itu sempat menjadi tontonan warga. Ia masih kecil ketika tim purbakala bekerja di lokasi.

"Seingat saya ada tim purbakala waktu itu menggali. Yang ditemukan beberapa gerabah kaya kendi lemah (terbuat dari tanah)," ungkap Mugiyono kepada detikJateng, Minggu (25/10/2026) siang.

Menurut Mugiyono, temuan bermula saat warga menggali tanah liat untuk bahan genteng. Cangkul mereka membentur benda yang ternyata gerabah semacam kendi.

"Itu kan digali lempunge (tanah liat) to, itu untuk bahan genteng. Kan lempungnya bagus untuk genteng, terus crokk! (terbentur cangkul), ada itu (gerabah)," tuturnya.

Permukiman Masa Peralihan Sebelum Hindu-Buddha

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, menyebut penelitian di Desa Padas dilakukan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1981 sebagai tindak lanjut penemuan wadah gerabah tanah liat berisi peralatan. Dari ekskavasi itu ditemukan berbagai wadah tembikar, periuk, tempayan, dan alat mirip tombak.

Hari menduga lokasi tersebut merupakan permukiman era paleometalik yang masuk masa prasejarah, yakni masa peralihan ketika manusia mulai mengenal logam.

"Jadi mulai mengenal tradisi logam, masa peralihan dari prasejarah, atau masa sebelum Hindu dan Budha. Manusia mulai menetap, permukiman dan mulai mengenal logam," jelas Hari.

Data Dinas Kebudayaan Klaten Belum Diperbarui

Pamong Budaya Ahli Pertama Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung, mengaku belum mengecek jejak temuan di Situs Padas. Menurut dia, data situs itu sepertinya belum masuk pencatatan instansinya.

"Sepertinya belum kita data," jawab Wiyan saat dimintai konfirmasi.

Jono (55), warga lain, membenarkan pernah ada penggalian di lokasi setelah tanah liatnya diambil warga dan benda-benda ditemukan. Ia saat itu masih duduk di sekolah dasar.

"Riyin nggih enten le kepacul nopo, nggih kados kendi (dulu ya ada yang kena cangkul warga, ya kaya kendi tanah liat)," imbuhnya.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top