JAWA TENGAH — Realisasi penanaman modal asing (PMA) asal Singapura ke Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp 278,51 triliun. Angka itu turun 7,51% dibanding 2024, memutus tren kenaikan yang berlangsung sejak 2010 ketika nilainya masih Rp 50,77 triliun.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menempatkan Singapura tetap sebagai negara asal PMA terbesar di Indonesia dalam 15 tahun terakhir. Posisi itu bertahan meski aliran modal dari Negeri Merlion menyusut secara tahunan pada 2025.
Penurunan 7,51% secara year-on-year (yoy) menandai koreksi pertama setelah tren investasi Singapura bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat selama lebih dari satu dekade.
Sepanjang 2010 hingga 2025, nilai investasi Singapura ke Indonesia naik lebih dari lima kali lipat. Pada 2010 realisasinya tercatat Rp 50,77 triliun, lalu berakhir di Rp 278,51 triliun pada 2025.
Lonjakan terbesar terjadi pada periode pertengahan dekade, ketika Singapura memantapkan diri sebagai hub investasi kawasan. Modal masuk lewat berbagai sektor, mulai dari industri pengolahan, infrastruktur, hingga sektor jasa dan teknologi.
Namun, jalur naik itu tidak berlangsung mulus setiap tahun. Data BKPM menunjukkan aliran investasi Singapura berfluktuasi, dengan beberapa tahun mengalami penurunan sebelum kembali menguat pada periode berikutnya.
Pergerakan investasi dari Singapura umumnya dipengaruhi sejumlah variabel yang saling terkait. Merujuk pola data historis BKPM, faktor-faktor berikut kerap menjadi penentu:
Singapura memiliki posisi unik karena banyak perusahaan multinasional menempatkan kantor regionalnya di sana. Aliran dana yang tercatat sebagai PMA Singapura sering kali berasal dari korporasi yang berbasis di negara lain.
Koreksi 7,51% pada 2025 perlu dibaca dalam konteks keseluruhan realisasi PMA Indonesia. Singapura masih menjadi kontributor terbesar, sehingga perubahan arah modalnya berdampak langsung pada total investasi asing yang masuk.
Bagi pelaku usaha, penurunan ini menjadi sinyal untuk mencermati sektor mana yang paling terpukul. Data rincian per sektor dalam laporan BKPM menjadi rujukan utama sebelum mengambil keputusan ekspansi atau penundaan proyek.
Pemerintah sendiri memakai angka realisasi PMA sebagai salah satu indikator kinerja investasi. Tren 15 tahun menunjukkan Singapura tetap menjadi jangkar, kendati laju pertumbuhannya tidak lagi seragam dari tahun ke tahun.
Bagi investor pasar modal, arah PMA Singapura kerap dikaitkan dengan sentimen terhadap saham-saham sektor konsumsi, properti, dan industri yang banyak menampung modal asing. Pelemahan aliran investasi bisa menjadi pertimbangan tersendiri dalam menyusun alokasi portofolio.