JAWA TENGAH — Turnamen edisi pertama dengan format 48 negara ini disebut Fary Francis sebagai ajang pembuktian bahwa reputasi masa lalu tak lagi cukup. Dalam rilis yang diterima detikSport, ia menilai Belanda dan Jepang sebagai dua kekuatan disruptif yang siap mengguncang peta persaingan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Fondasi Kuat Oranye, Tradisi Juara yang Belum Tuntas
Belanda, kata Fary, memiliki fondasi sepakbola yang kokoh, filosofi permainan jelas, dan tradisi panjang melahirkan pemain kelas dunia. Ironisnya, tim berjuluk Oranye itu belum pernah sekalipun menjadi juara dunia.
"Dengan kombinasi pemain senior dan generasi baru yang matang di liga-liga elite Eropa, Belanda berpotensi menjadi 'silent contender' yang perlahan menyingkirkan para unggulan hingga mencapai partai puncak," ujar Fary Francis.
Jepang: Wakil Asia yang Siap Ubah Sejarah
Tak hanya Belanda, Fary juga menyoroti performa Jepang yang tampil merepotkan di Piala Dunia 2022. Samurai Biru saat itu menjadi juara Grup E, mengungguli Spanyol dan Jerman.
"Yang menarik, jika Belanda mewakili evolusi kekuatan tradisional Eropa, maka Jepang mewakili masa depan sepakbola global yang berbasis sistem," jelas Fary. Ia menambahkan, batas antara negara favorit dan nonfavorit kini semakin tipis berkat kemampuan Jepang mengalahkan tim-tim elite dunia.
Pertarungan Tradisi vs Inovasi di Panggung Global
Fary menekankan bahwa Piala Dunia 2026 bukan sekadar perebutan trofi, melainkan pertarungan antara tradisi dan inovasi. Negara-negara favorit yang gagal beradaptasi dengan dinamika baru turnamen, kata dia, berisiko tersingkir lebih awal.
"Namun apabila terjadi kejutan besar, maka Belanda memiliki peluang menjadi juara baru pertama dari Eropa Barat dalam era modern. Sedangkan Jepang berpotensi menciptakan sejarah sebagai negara Asia pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia," tambahnya.
Skenario Juara Kejutan: Lahirnya Tatanan Baru
Fary Francis percaya diri Belanda bakal keluar sebagai juara, meski Spanyol dan Prancis di atas kertas lebih difavoritkan. Menurutnya, keberhasilan kini ditentukan oleh kualitas sistem, kedalaman skuad, dan kemampuan beradaptasi.
"Bila skenario tersebut terjadi, maka Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan karena mempertahankan dominasi lama, melainkan karena menjadi titik awal lahirnya tatanan baru sepakbola dunia," tutup Fary.