PATI — Usaha rumahan pengolahan limbah garmen di Kabupaten Pati menjadi korban pemadaman listrik yang kian sering terjadi. CV Mahakarya Mulya, milik Muryati di Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, disebut mengalami kerugian puluhan juta rupiah setiap kali aliran listrik terputus.
Pemadaman terjadi dalam sepekan terakhir dengan durasi rata-rata tiga hingga empat jam per hari. Akibatnya, target produksi harian ambruk dan pesanan pelanggan terancam molor.
Kerugian Harian Capai Puluhan Juta, Upah Karyawan Tetap Jalan
Muryati mengungkapkan, setiap kali listrik padam, mesin produksi berhenti total. “Biasanya mati total. Otomatis sangat mengganggu produksi karena usaha kami memang bergantung pada listrik,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan, dalam satu hari kerugian yang ditanggung bisa mencapai puluhan juta rupiah. Selain kehilangan pendapatan, Muryati tetap harus membayar upah 15 karyawan yang sudah masuk kerja meski tak bisa berproduksi.
“Pegawai sudah masuk kerja, lalu listrik mati. Mereka terpaksa berhenti bekerja,” jelas perempuan yang akrab disapa Muryati itu.
Produksi Berhenti, Pesanan Menumpuk
Kondisi ini memicu kekhawatiran para pengusaha home industry di Pati. Sebab, sebagian besar usaha rumahan di kawasan tersebut sangat bergantung pada pasokan listrik untuk menjalankan mesin produksi.
Belum ada pernyataan resmi dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) terkait penyebab pemadaman yang kian sering terjadi di wilayah Pati. Para pengusaha berharap ada solusi cepat agar aktivitas ekonomi tidak terus terganggu.
CV Mahakarya Mulya sendiri merupakan salah satu pengolah limbah garmen yang cukup besar di Kecamatan Gembong. Dengan kapasitas produksi yang tinggi, setiap jam mati listrik berarti kerugian yang tidak sedikit bagi usaha dan nasib belasan karyawan.