SEMARANG — Rencana pembangunan dry port di dua kabupaten itu mengemuka setelah Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, melakukan studi komparatif ke Cikarang Dry Port, Kabupaten Bekasi, Sabtu (15/8/2026). Kunjungan tersebut melibatkan pengelola kawasan industri, BUMD, serta organisasi perangkat daerah terkait untuk mempelajari pengelolaan fasilitas serupa.
Luthfi menilai keberadaan fasilitas ini semakin mendesak. Sebab, kapasitas Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dinilai belum maksimal menopang arus barang dari kawasan industri di pesisir utara Jawa Tengah.
“Untuk menopang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang kurang maksimal, salah satu solusinya adalah pembangunan dry port,” katanya usai meninjau dan berdiskusi dengan pengelola dry port Cikarang.
Dua Lokasi Disiapkan, Lahan Masing-masing 50 Hektare
Pemprov Jateng telah mengidentifikasi dua lokasi potensial untuk proyek ini. Keduanya berada di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Weleri, Kabupaten Kendal, dengan masing-masing lahan seluas sekitar 50 hektare.
Untuk proyek di Batang, kerja sama telah dituangkan dalam nota kesepahaman yang melibatkan PT KAI, Pelindo, KITB, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT), serta BUMD Kabupaten Batang. Tahapan proyek kini berlanjut pada studi kelayakan dan pemilihan konsultan perencana.
“Yang sudah kita kerjakan sekarang adalah di KITB, sudah MoU, tapi juga nunggu perkembangan situasi. Prinsipnya, dua tahun ke depan dry port harus jadi,” ujarnya.
Bukan Sekadar Tempat Bongkar Muat
Direktur Cikarang Dry Port, Noor Yusuf, menjelaskan fasilitas yang dikelolanya telah beroperasi sejak 2010 dan dimanfaatkan sekitar 500 perusahaan untuk kegiatan ekspor dan impor. Layanan tersebut menjangkau area mulai dari Tangerang, Cikampek, hingga Bandung.
Menurutnya, konsep dry port memberikan dukungan logistik lebih luas karena tidak hanya menyediakan layanan bongkar muat, tetapi juga fasilitas penyimpanan barang atau storage. Jababeka, lanjut dia, juga sedang menyiapkan rencana pembangunan dry port di Weleri, Kendal.
“Konsep dry port ini memiliki fasilitas lebih luas, termasuk storage (tempat penyimpanan). Jababeka juga sedang menyiapkan rencana pembangunan dry port di Weleri, Kendal,” ucapnya.
Mengapa Keberadaan Dry Port Krusial bagi Jateng?
Kehadiran dry port diharapkan mampu memangkas biaya logistik yang selama ini membebani pelaku industri. Dengan fasilitas di dekat kawasan produksi, kontainer tidak perlu menempuh perjalanan jauh ke Jakarta atau Surabaya.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat daya saing industri di Jateng, khususnya di koridor utara yang menjadi lokasi KITB dan kawasan industri Kendal. Pemprov Jateng memastikan proyek tidak berhenti pada tahap perencanaan dan akan terus dikebut hingga fasilitas tersebut berdiri.