SURAKARTA — Program Rumah Siap Kerja di Kota Solo masuk dalam catatan evaluasi DPRD setempat. Alokasi dana yang digelontorkan Pemkot untuk program ini pada tahun 2025 mencapai Rp 2 miliar.
Serapan Peserta Dinilai Belum Optimal
Komisi IV DPRD Kota Solo menemukan bahwa jumlah warga yang mengikuti pelatihan di Rumah Siap Kerja belum mencapai target yang ditetapkan. Program yang dirancang untuk membekali pencari kerja dengan keterampilan praktis ini dinilai perlu diperluas jangkauannya, terutama ke kelurahan-kelurahan dengan angka pengangguran tinggi.
"Kami melihat potensi program ini sangat besar, tapi sosialisasi dan pendekatan ke warga harus diperkuat. Jangan sampai anggaran sudah digelontorkan tapi manfaatnya belum dirasakan maksimal," ujar seorang anggota Komisi IV DPRD Solo dalam rapat evaluasi, pekan lalu.
Tambahan Anggaran Rp 2 Miliar untuk Perluasan
Menanggapi catatan DPRD, Wali Kota Solo memastikan akan menambah anggaran program Rumah Siap Kerja pada tahun depan. Tambahan dana sebesar Rp 2 miliar itu akan digunakan untuk membuka lebih banyak kelas pelatihan di berbagai kecamatan.
Dengan tambahan tersebut, total anggaran program ini diperkirakan mencapai Rp 4 miliar. Pemkot menargetkan jumlah peserta bisa meningkat dua kali lipat dari periode sebelumnya. Pelatihan yang ditawarkan mencakup tata boga, menjahit, hingga servis elektronik.
Pemkot Fokus pada Warga Tanpa Keahlian
Program Rumah Siap Kerja menyasar warga usia produktif yang belum memiliki keterampilan kerja atau putus sekolah. Peserta tidak hanya mendapat pelatihan, tetapi juga pendampingan untuk masuk ke pasar kerja atau memulai usaha mandiri.
Pemkot Solo berencana menggandeng lebih banyak perusahaan dan pelaku UMKM sebagai mitra penyerap lulusan program ini. Langkah itu diharapkan bisa memutus rantai pengangguran di kota tersebut secara lebih efektif.