Pengelola Trans Semarang merencanakan pengadaan 18 unit bus listrik untuk meremajakan seluruh armada Koridor 5 rute Meteseh-PTPP pada 2027. Rencana itu menyusul sukses pengoperasian 27 bus listrik di Koridor 1 rute Mangkang-Penggaron yang telah berjalan sejak awal. Pengadaan bus baru akan memakai konfigurasi high deck karena rute yang dilalui melewati perlintasan rel kereta api.
SEMARANG — Kepala Badan Layanan Umum (BLU) UPTD Trans Semarang Haris Setyo Yunanto menyatakan pihaknya akan mengusulkan 18 unit bus listrik untuk menggantikan seluruh armada konvensional di Koridor 5. Koridor tersebut melayani rute Meteseh-PTPP pulang-pergi. Usulan itu masuk dalam rencana peremajaan angkutan massal Kota Semarang tahun depan.
Langkah peremajaan ini menandai tahap kedua elektrifikasi armada Trans Semarang. Sebelumnya, Koridor 1 rute Mangkang-Penggaron sudah dilayani 27 bus listrik berkapasitas 48-60 penumpang. Bus tersebut diproduksi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk dengan karoseri dari PT Laksana Bus Manufaktur.
Mengapa Koridor 5 Dipilih dan Apa Beda Bus Listriknya?
Haris menjelaskan bus listrik untuk Koridor 5 akan memakai desain high deck atau berlantai tinggi, berbeda dari 27 unit yang kini beroperasi dengan konfigurasi low deck. Pilihan itu diambil karena rute Koridor 5 melewati perlintasan rel kereta api.
"Untuk tahun depan, insya Allah kami mau meremajakan koridor 5. Ke bus listrik juga, tapi arahnya lebih ke 'high deck'," kata Haris di Semarang, Kamis.
Ia menambahkan konfigurasi berlantai tinggi dinilai lebih aman saat melintasi jalur kereta. "Arahnya lebih ke 'high deck', mengingat rute yang dilalui itu melewati rel kereta api (KA)," ujarnya.
Seluruh Armada Ditargetkan Listrik dalam Lima Tahun
Peremajaan Koridor 5 menjadi bagian dari peta jalan elektrifikasi menyeluruh. Haris memperhitungkan penggantian seluruh armada Trans Semarang menjadi kendaraan listrik butuh waktu minimal lima tahun. Prosesnya dilakukan bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran dan kesiapan infrastruktur.
Menurut Haris, pengadaan bus listrik tahun depan masuk prioritas karena ada landasan regulasi. Perda Nomor 11/2024 tentang Penyelenggaraan Perhubungan mengatur kewajiban pemerintah kota memberikan subsidi minimal 5 persen dari APBD untuk transportasi.
"Jadi, memang di sini pemerintah Semarang itu komitmen dengan (pengembangan) transportasi. Sesuai dengan regulasi tersebut," katanya.
Komitmen VKTR dan Dampak bagi Penumpang
Direktur Utama VKTR A. Ardiansyah Bakrie menyatakan pengoperasian bus listrik Trans Semarang merupakan bagian dari komitmen perusahaan mendukung pemerintah daerah. Dukungan itu diwujudkan dalam penyediaan solusi transportasi yang sesuai kebutuhan warga sekaligus mempercepat elektrifikasi kendaraan komersial di Indonesia.
"Bagi VKTR, kehadiran bus listrik di Semarang bukan sekadar mengganti kendaraan konvensional menjadi listrik, tetapi bagian dari upaya menjawab kebutuhan masyarakat akan transportasi publik yang lebih nyaman, bersih dan inklusif," kata Ardiansyah.
Bagi penumpang Trans Semarang, peremajaan armada berarti kualitas layanan yang lebih tenang dan minim emisi. Koridor 5 yang menghubungkan kawasan Meteseh hingga PTPP melintasi sejumlah titik padat, termasuk perlintasan kereta, sehingga aspek keselamatan dan kenyamanan menjadi pertimbangan utama pemilihan bus berlantai tinggi.
Jika usulan 18 unit bus listrik disetujui, Koridor 5 akan menjadi koridor kedua yang sepenuhnya dilayani kendaraan listrik. Pemerintah Kota Semarang belum merinci jadwal pengadaan maupun nilai anggaran yang disiapkan untuk tahap peremajaan ini.