JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 9 poin atau 0,05 persen ke Rp18.089 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (26/10/2026), dari penutupan sebelumnya Rp18.080. Pelemahan terjadi saat harga minyak mentah Brent melonjak 3,14 persen ke US$116,72 per barel, level tertinggi sejak akhir April. Analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah belum berakhir selama ketegangan di Timur Tengah memanas.
Pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan kali ini nyaris datar secara persentase, tetapi arahnya tetap keluar dari rupiah. Posisi Rp18.089 per dolar AS menandai pelemahan tipis yang terjadi tepat ketika pasar energi global bergolak.
Pemicunya bukan faktor domestik. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kembali mencuat dan mendorong harga minyak dunia menembus level 100 dolar AS per barel, seperti dilaporkan Kompas.tv dari perdagangan sebelumnya.
Brent dan WTI Kompak Melonjak
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember ditutup di level US$116,72 per barel, naik 3,14 persen. Angka itu merupakan level tertinggi sejak akhir April.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak yang sama ditutup pada US$103,27 per barel, menguat 3,82 persen. Kenaikan dua acuan minyak dunia tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap kemungkinan pecahnya kembali pertempuran di kawasan Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasokan energi global.
Pasar juga mencermati laporan mengenai rencana Amerika Serikat dan Israel untuk menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026. Laporan itu menambah lapisan ketidakpastian baru bagi pelaku pasar energi.
Lukman Leong: Rupiah Masih Berpotensi Melemah
Analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah belum akan berbalik arah dalam waktu dekat. Menurut dia, tekanan dari sisi eksternal masih dominan.
"Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timteng yang kembali membuat harga minyak naik di atas 100 dolar AS per barel," kata Lukman, dikutip dari Antara.
Pernyataan itu memberi sinyal bahwa pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik, bukan pada data domestik. Selama harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS, ruang penguatan rupiah cenderung sempit.
Mengapa Harga Minyak Menekan Rupiah
Indonesia adalah net importir minyak. Ketika harga minyak mentah melonjak, kebutuhan devisa untuk impor energi ikut membengkak, dan permintaan terhadap dolar AS meningkat.
Tekanan itu datang bersamaan dengan arus modal yang cenderung menghindari aset berisiko di negara berkembang saat ketegangan geopolitik meninggi. Kombinasi keduanya membuat rupiah sulit menahan pelemahan meski besarnya tipis.
Bagi pelaku pasar, level Rp18.089 menjadi acuan awal sesi. Perhatian berikutnya tertuju pada apakah Brent mampu bertahan di atas US$116 per barel atau justru terkoreksi setelah lonjakan tajam.
Yang Perlu Dicermati Investor
Pergerakan rupiah hari ini lebih ditentukan oleh sentimen global ketimbang faktor fundamental dalam negeri. Investor obligasi dan pelaku pasar valas perlu memantau dua hal: perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah harga minyak pada sesi berikutnya.
Jika ketegangan mereda, rupiah berpeluang kembali mendekati level Rp18.080. Sebaliknya, jika laporan mengenai rencana serangan terhadap Iran semakin menguat, tekanan terhadap mata uang lokal bisa bertambah sebelum pasar menemukan titik keseimbangan baru.