SRAGEN — Aksi nekat seorang perempuan pengunjung Lapas Sragen berhasil digagalkan petugas keamanan. Ia menyelundupkan paket narkoba yang diduga kuat berisi sabu dan pil ekstasi—yang disebut sebagai "paket komplit" oleh kalangan pengguna—dengan menyembunyikannya di area sensitif tubuh, tepatnya di balik pembalut yang ia pakai.
Menurut keterangan petugas, pihak lapas memang sudah menerapkan prosedur pemeriksaan ketat terhadap setiap pengunjung. Namun, lokasi penyembunyian yang tidak lazim ini membutuhkan kewaspadaan ekstra dari petugas wanita yang bertugas di ruang pemeriksaan. "Barang bukti ditemukan saat pemeriksaan badan oleh petugas wanita. Pelaku mengaku mendapat paket itu dari seseorang di luar," ujar Kepala Pengamanan Lapas Sragen.
Modus penyelundupan dengan memanfaatkan barang pribadi seperti pembalut menunjukkan tingginya permintaan narkoba di dalam lapas. Sabu dan pil ekstasi, yang kerap disebut "paket komplit", memiliki nilai jual tinggi dan menjadi komoditas utama peredaran gelap di lingkungan tahanan. Peristiwa di Sragen ini bukan kasus pertama; pola serupa pernah terungkap di sejumlah lapas lain di Jawa Tengah, seperti di Lapas Kelas I Kedungpane Semarang dan Lapas Narkotika Yogyakarta.
Pelaku tidak hanya dicekal untuk masuk lapas, tetapi juga terancam hukuman pidana. Berdasarkan Undang-Undang Narkotika, ia dapat dijerat sebagai pengedar atau setidaknya sebagai penyalahguna yang terbukti memiliki narkotika. Pihak Lapas Sragen memastikan akan bekerja sama dengan Satreskoba Polres Sragen untuk mengembangkan kasus ini, termasuk menelusuri siapa pemasok barang haram tersebut dari luar.
Bagi narapidana yang menjadi tujuan pengiriman, sanksi administratif hingga pidana tambahan bisa menanti. Mereka dapat kehilangan hak remisi, ditempatkan di sel pengasingan, atau bahkan diproses hukum baru atas kepemilikan narkoba. Kasus ini menjadi pengingat bagi keluarga pengunjung untuk tidak tergiur iming-iming upah dari bandar narkoba yang memanfaatkan momen besuk.
Pasca pengungkapan ini, Kalapas Sragen menyatakan akan meningkatkan frekuensi razia dan memperketat prosedur pemeriksaan, termasuk penggunaan alat deteksi logam portabel. "Kami juga akan memperbarui SOP pemeriksaan pengunjung agar celah seperti ini tidak terjadi lagi," tegasnya. Langkah ini diharapkan mampu memutus rantai peredaran narkoba yang kerap menyusup lebar jalur kunjungan keluarga.