Panen Padi Temanggung Tembus 10,2 Ton per Hektare, Komisi IV DPR Dorong Pemupukan Berimbang Diperluas

Penulis: Surya Dinata  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 07:16:31 WIB
Panen padi di demplot Desa Plosogaden, Temanggung, Selasa (30/9/2026).

TEMANGGUNG — Panen di demplot Desa Plosogaden berlangsung Selasa (30/9/2026). Hasil ubinan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Temanggung mencatat produktivitas 10,2 ton per hektare pada musim tanam tersebut. Demplot ini dikembangkan melalui kolaborasi Komisi IV DPR RI, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia (Persero), Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani), PT Intani Bumi Lestari (IBL), serta PT Indoraya Mitra Persada 168 (IMP 168).

Kenaikan Produksi Rata-rata 40 Persen

Panggah menyebut pola pemupukan berimbang ini menaikkan produksi rata-rata 40 persen dibandingkan cara konvensional. "Hasilnya kenaikan produksi rata-rata 40 persen, dari sebelumnya rata-rata 6 ton per hektare naik menjadi 10 ton lebih per hektare," ujar Panggah Susanto saat panen di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung.

Demplot di Temanggung merupakan bagian dari pengujian yang juga dikembangkan di dua wilayah lain, yakni Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Masing-masing lokasi memiliki luas 5 hektare sehingga total luas demplot mencapai 15 hektare.

Komposisi Perlakuan: Pupuk Sintetis Dikurangi 30 Persen

Salah satu perlakuan yang diterapkan dalam demplot adalah penggunaan pupuk sintetis sebesar 70 persen atau dikurangi 30 persen. Perlakuan itu dikombinasikan dengan 6 liter PHC Pureplant per hektare.

Pola serupa sebelumnya menunjukkan hasil tinggi di demplot Bantul. Produktivitas tertinggi pada perlakuan 70 persen pupuk sintetis ditambah PHC Pureplant mencapai 10.097 kilogram per hektare. Sementara perlakuan 100 persen pupuk kimia tanpa tambahan PHC tercatat 6.624 kilogram per hektare.

Mengapa Pemupukan Berimbang Penting bagi Petani

Pendekatan ini menawarkan dua manfaat sekaligus bagi petani: produktivitas naik dan biaya pupuk sintetis ditekan. Pengurangan 30 persen pupuk sintetis berarti ada penghematan input yang bisa dialihkan ke kebutuhan budidaya lain.

Panggah menilai pola ini layak diperluas sebagai salah satu pendekatan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung efisiensi budidaya padi dan ketahanan pangan nasional. Hasil di tiga lokasi demplot menjadi dasar awal sebelum penerapan skala lebih luas.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: rejogja.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top