JAWA TENGAH — Hasil imbang tersebut membuat Manchester City tertahan di peringkat kedua dengan 78 poin. Arsenal yang memuncaki klasemen dengan 82 poin pun tak bisa lagi dikejar meski menyisakan satu laga. Ini adalah gelar perdana Arsenal di era Mikel Arteta setelah melalui proses pembangunan skuad selama bertahun-tahun.
Bournemouth Gagalkan Man City, Arsenal Petik Untung
Manchester City datang ke Vitality Stadium dengan misi wajib menang demi menjaga asa juara. Namun, Bournemouth tampil agresif sejak awal dan berhasil unggul lebih dulu melalui gol Eli Junior Kroupi pada menit ke-39.
The Citizens baru bisa menyamakan kedudukan di masa injury time babak kedua lewat Erling Haaland. Gol itu tak cukup untuk membawa pulang tiga poin, sekaligus memastikan mahkota juara meluncur ke tangan Arsenal.
Dua Dekade Penantian, Dari The Invincibles ke Era Arteta
Gelar ini mengakhiri puasa panjang Arsenal yang berlangsung selama 22 tahun. Terakhir kali The Gunners meraih trofi Premier League pada musim 2003/2004, saat mereka mencatatkan prestasi sempurna sebagai juara tanpa terkalahkan—dijuluki The Invincibles.
Kegagalan demi kegagalan di dua dekade berikutnya sempat membuat Arsenal dianggap kehilangan identitas sebagai tim papan atas. Namun, kesabaran manajemen mempertahankan Mikel Arteta meski sempat menuai kritik mulai membuahkan hasil. Arteta perlahan membangun fondasi tim dengan skuad muda yang solid dan kedalaman materi pemain yang memadai.
Manfaat Jelang Final Liga Champions: Rotasi Pemain Jadi Keuntungan
Keberhasilan mengunci gelar lebih awal memberi keuntungan taktis bagi Arsenal jelang final Liga Champions. Mereka bisa mengistirahatkan pemain andalan saat menghadapi Crystal Palace di akhir pekan tanpa tekanan wajib menang.
Kondisi itu membuat para pemain bintang diperkirakan akan tampil dalam kondisi paling fit saat Arsenal berhadapan dengan Paris Saint-Germain pada Sabtu (30/5). Final Liga Champions menjadi kesempatan kedua Arsenal musim ini untuk menambah koleksi trofi setelah sukses di kompetisi domestik.