BREBES — Panggung wayang golek di Lapangan Desa Parireja, Kecamatan Banjarharjo, berubah menjadi ruang publik untuk menyampaikan pesan pembangunan sumber daya manusia. Ribuan warga yang hadir tak hanya menyaksikan lakon, tetapi juga mendapat edukasi langsung tentang dua isu krusial: pemenuhan gizi anak dan keamanan bermedia digital.
Mengapa Wayang Golek Dipilih untuk Kampanye Digital?
Direktur Komunikasi Publik Komdigi, Nunik Purwanti, mengatakan pendekatan budaya dipilih agar pesan pembangunan lebih mudah diterima masyarakat. "Kita berkumpul untuk menjaga sesuatu yang paling berharga. Yaitu, masa depan anak-anak Indonesia. Kita ingin anak-anak kita tumbuh sehat, pintar, dan memiliki masa depan yang lebih baik dari orang tuanya," ujarnya saat membuka kegiatan, Rabu malam.
Menurut Nunik, tantangan pengasuhan anak kini berbeda dengan masa lalu. Dahulu orang tua bisa memantau aktivitas anak di luar rumah, tetapi kini anak bisa menjelajahi internet dan berinteraksi dengan siapa saja tanpa meninggalkan kamar. Hal inilah yang mendorong pemerintah mendorong peran aktif orang tua dalam mendampingi anak menggunakan teknologi secara tepat.
PP Tunas dan Program Makan Bergizi Gratis Jadi Pilar Perlindungan Anak
Nunik menjelaskan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas sebagai bentuk perlindungan anak di ruang digital. Regulasi ini berjalan beriringan dengan Program Makan Bergizi Gratis yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan anak sejak dini.
Kabupaten Brebes dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki potensi sumber daya manusia yang mampu bersaing di masa depan. "Dengan dukungan pemenuhan gizi, pendidikan yang baik, serta lingkungan digital yang aman, anak-anak Brebes diyakini mampu menjadi bagian dari generasi penerus," jelas Nunik.
Wabup Brebes: Tubuh Sehat Lahirkan Semangat Belajar dan Kreativitas
Wakil Bupati Brebes, Wurja, menegaskan bahwa pembangunan generasi emas harus dimulai dari kesehatan dan kecukupan gizi anak. "Anak-anak kita tumbuh dengan gizi yang cukup karena dari tubuh yang sehat lahir semangat belajar, kreativitas, dan daya juang yang kuat," ujar Wurja.
Ia menambahkan, di era digital, peran orang tua, guru, dan masyarakat sangat penting untuk memastikan anak-anak aman dan bijak dalam menggunakan teknologi. Wurja mengapresiasi langkah Komdigi yang menghadirkan pendekatan budaya melalui wayang golek santri sebagai media penyampaian pesan. "Pendekatan budaya membuat pesan-pesan pembangunan lebih dekat, membumi, dan mudah diterima oleh masyarakat," katanya.
Apa yang Dibahas dalam Dialog Interaktif?
Dalam pagelaran yang bertema "Membangun Generasi Emas Indonesia: Tubuh Sehat dan Aman di Era Digital" itu, dalang Ki Haryo Enhus Susmono menyisipkan dialog interaktif di antara lakon. Warga diajak berdiskusi tentang pentingnya memilih makanan bergizi untuk anak dan cara melindungi anak dari konten negatif di internet. Pendekatan ini dinilai efektif karena pesan disampaikan dalam kemasan hiburan yang akrab dengan masyarakat pedesaan.